Bagaimana Sikap Orang Tua terhadap Anak Yang Sedang Pacaran, Tetapi Mereka Sudah Hidup Bersama?

Kasus:
Anak saya, pria dewasa usia 32 tahun, mapan dalam pekerjaan, terang2an tinggal bersama di apartment di Jakarta dengan pacarnya,usia 28 tahun(mapan dalam pekerjaan juga).Tidak ada yang salah dengan sang wanita.Saya dan suami merestui hubungan mereka, tapi tidak soal ‘samen leven’ ini. Mereka mengatakan belum siap untuk menikah. Bagaimana kami bersikap?

Tanggapan:
Kalau dilihat dari sisi usia, kedua orang itu sudah dikatakan dewasa artinya sudah mampu membuat keputusan sendiri, termasuk membuat keputusan untuk membangun hidup berkeluarga, apalagi kedua-duanya sudah mapan dalam pekerjaan sehingga secara ekonomi memungkinkan. Kalau dikatakan mereka belum siap untuk menikah, dalam hal apa? Apakah mereka masih menikmati masa lajang sehingga tidak mau terikat pada komitment hidup perkawinan? Kalau demikian, maka sebagai orang tua, bapak dan Ibu dapat memahami situasi mereka. Nah kalau mereka belum siap untuk hidup berumah tangga, tentu jangan dipaksakan sebab perkawinan itu adalah sesuatu yang sakral/suci dan menuntut komitmen seumur hidup. Oleh  karena itu, sikap orang tua adalah memberi pengertian kepada mereka agar dalam masa perkenalan atau masa pacaran, mereka tetap harus menjaga hubungan mereka tetap sehat, tidak  melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan, dan tidak  hidup bersama di apartement.

Yang  namanya kumpul kebo atau samen leven atau hidup  bersama tanpa ikatan nikah tentu tidak boleh dilakukan. Karena dalam pandangan Gereja katolik hidup bersama dan relasi intim hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah terikat perkawinan  yang sah. Di samping itu, Gereja Katolik mengajarkan kebenaran tentang seksualitas manusia yang memiliki dimensi unitif dan prokreatif, maksudnya hubungan seksual dikakukan sebagai ungkapan pemberian diri secara utuh-menyeluruh dan total, serta harus terarah pada kelahiran manusia baru.  Hidup bersama dalam satu apartemen tentu risikonya besar, godaanya kuat.  Kita hendaknya ingat bahwa daging itu lemah dan roh adalah penurut. Oleh karena itu, sejauh itu mungkin, kita harus menjauhkan diri dari godaaan, jangan menjatuhkan diri ke dalam pencobaan. Lain halnya kalau kedua orang muda tersebut memang punya komitment dan pengendalian diri yang kuat sehingga mereka tetap mampu menjaga kemurnian hidupnya selama mereka menjalani masa pacaran.  Sebaiknya mereka tidak tinggal bersama se-apartement. Dalam hal ini, orang tua tetap memiliki kewajiban untuk mendampingi dan mengingatkan anaknya.

(Pastor Laurentius Tarpin, OSC).