Pekan Suci Di Stasi St. Theodorus, Sukawarna

Pastor Warhadi membasuh kak

Pastor Warhadi membasuh kaki

Pekan Suci dimaknai dalam tradisi Gereja, dimana merupakan saat kebaikan hati Tuhan mengalir melalui kasih putra-Nya. Peristiswa Kamis Putih saat Yesus membasuh kaki murid-Nya pada perjamuan malam terakhir menggambarkan kerendahan hati seorang pemimpin yang mau dengan ikhlas melayani. Realita yang saat ini sangat jarang ditemui.

Perasaan haru membuat hati miris, benarkah kelak Sang Guru yang baik dan penuh kasih akan disalibkan? Tak seorang pun dari kita tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, tetapi berbeda dengan Yesus, Dia tahu bahwa pada saatnya akan menderita bahkan sampai mati di salib. Ketaatan-Nya pada kehendak Bapa membuat Dia ikhlas menjalani dera dan siksa untuk menebus dosa manusia.

Setelah perayaan Ekaristi usai, maka umat berdoa tuguran bersama sampai larut malam, tinggal bersama Yesus dan menemani sebelum sengsara-Nya.

Keesokan harinya ibadat dimulai pada pukul 15.00. Pada Jumat Agung, panti imam terlihat kosong, tabernakel sunyi rentang waktu duka saat ini Tuhan telah wafat. Di saat itu murid-murid tercerai berai tak ingat bahwa Yesus telah menggenapi janji-Nya. Jumat Agung saat masa duka membumbung, kekuatan cinta yang tanpa batas telah menyalibkan Putra Allah.

Tuguran umat stasi

Tuguran umat stasi

 

 

Dalam khotbah Pastor menyampaikan bahwa sengsara dan wafat Yesus membawa dua makna, pertama, sebuah antiklimaks, seolah-olah dengan kematian-Nya maka ajaran

dan teladan-Nya akan musnah, selesai. Kedua, sebuah klimaks dari suatu kejadian, bahwa dalam salib ada tanda kemenangan yang jaya. Puncak dari kehidupan sejati dalam Allah. Sebuah kemenangan yang membawa cahaya dalam kegelapan karena dosa.

 

Demikian Sabtu Suci menjelang. Ritus pemberkatan api adalah awal dari kembalinya asa yang telah memudar. Kristus cahaya duni membawa pengharapan akan kehidupan surgawi. Imam sambil menyalakan lilin paskah dari api yang baru, berkata, “Cahaya Kristus yang bangkit mulia menghalau kegelapan dari hati dan budi kita”. Kemudian lilin paskah diarak.

 

Panti imam yang kosong

Panti imam yang kosong

Cium salib dalam ibadat Jumat Agung

Cium salib dalam ibadat Jumat Agung

Pada penutupan perayaan Ekaristi kelompok koor St. Theodorus Choirmempersembahkan konser mini yang terdiri dari 2 buah lagu : ‘This is The Day’ dan ‘Hari Ini’ yang dipimpin dirigen tamu, Dionisius Yansen. Kelompok koor ini melayani dalam setiap perayaan ekaristi Pekan Suci.

 

Akhirnya sampailah pada puncak perayaan Pekan Suci, MINGGU PASKAH. Saat Tuhan telah bangkit mengalahkan maut, Alleluya! Dalam saat Pekan Suci umat yang hadir cukup banyak. “Kebangkitan”  perlu iman untuk mempercayainya, tak ada bukti yang cukup jelas dalam pandangan logika. Seberapa besar rasa percaya kita?

Untuk meneguhkan iman memang diperlukan bukti. Para rasul mendapatkan bukti dan mempercayainya kemudian menuliskannya dalam Kitab Suci (bdk. Markus 8:31;9:31:10:34).

Ritus pemberkatan api dalam Sabtu Suci

Ritus pemberkatan api dalam Sabtu Suci

Keakraban antar umat yang terjalin melalui semangkuk lontong sayur usai misa hari Minggu Paskah di stasi

Keakraban antar umat yang terjalin melalui semangkuk lontong sayur usai misa hari Minggu Paskah di stasi

Pastor Rob Stigter memimpin misa Hari Raya Paskah

Pastor Rob Stigter memimpin misa Hari Raya Paskah

Percaya haruslah sepenuh hati yang diwujudkan dengan mengamalkan cinta kasih. Setelah misa usai seluruh umat beramah tamah dan bergembira menyambut hari raya Paskah ditemani semangkuk lontong sayur yang nikmat. Puji Tuhan!

Misa Minggu Palma sampai dengan Sabtu Suci dipimpin oleh Pastor T. Warhadi, OSC dan Misa Hari Raya Paskah dipimpin oleh Pastor Rob Stigter.,OSC. (Wiwit)