Pesan Ekaristi Bulan Mei 2011, Tahun Liturgi A / I

01 Mei 2011, HARI MINGGU PASKAH II . Oktaf Paskah – Minggu Kerahiman Ilahi.

Kis. 2:42-47; 1Ptr. 1:3-9; Yoh. 20:19-31.

Bagaimana kita bisa percaya kepada Yesus? Apa yang menjadi dasar dari iman kita kepada-Nya? Bagaimana iman dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik?

Injil Yohanes kali ini mengatakan bahwa semua telah dicatat, supaya kita percaya, bahwa Yesus-lah Mesias, Anak Allah, dan supaya oleh karena iman kebangkitan itulah, kita memperoleh hidup didalam nama-Nya.” Mungkin kita seperti Rasul Thomas, setelah mendapat bukti kehadiran Tuhan, barulah percaya dan berkata “Ya Tuhanku dan Allahku” Mungkin kita juga disapa Yesus dengan  “Berbahagialah mereka yang tidak melihat tetapi percaya.”

Santo Petrus dalam surat pertamanya mengawali dengan doa pujian kepada Tuhan Yesus  yang bangkit. Dengan iman inilah kita mendapat  “kelahiran baru,” awal dari kehidupan yang menjadikan kita anak Tuhan, ahli waris Allah.

Perjanjian Baru membuat jelas bahwa percaya kepada Yesus tidaklah berarti mendapat bagian dalam segala sesuatu sama rata untuk setiap orang. Tetapi dalam keadaan apa saja, kebahagiaan kehidupan kitalah yang menjadi saksi yang kuat untuk menunjukkan kehadiran dan kerahiman Allah.

08 Mei 2011 – HARI MINGGU PASKAH III.

Kis. 2:14,22-33; 1Ptr. 1:17-21; Luk. 24:13-35.

Kleopas dan temannya mungkin telah mengadakan perjalanan ke Emaus beberapa kali. Tapi perjalanan kali ini menceritakan bahwa mereka sedang memikirkan kesedihan dan kekecewaan atas situasi dimana harapan mereka yang memudar dengan kematian Sang Guru dan kubur yang kosong. Tetapi Yesus adalah Gembala yang baik, Ia menemukan dua piatu dari kawanan-Nya itu dan membawa mereka pulang kepada-Nya. Kedua murid itu akhirnya tiba di Emaus dan mengakui bahwa rekan perjalanan mereka itu adalah Yesus karena ada  tindakan memecahkan roti.

Bagian ini memiliki banyak fitur yang menarik. Pertama adalah kesaksian mereka tentang hati mereka yang membara bahagia saat teman perjalanan yang misterius itu berbicara kepada mereka. Tampaknya kerinduan batin kitapun ingin mendengar Tuhan berbicara di  hari-hari di dalam perjalanan hidup kita. Fitur lain yang luar biasa adalah instruksi rinci untuk menerima Tuhan yang bangkit. Lukas memberitahukan kepada kita bahwa menerima Yesus itu dimulai dari permenungan Musa dan para nabi atas setiap bagian dari Kitab Suci.

Peristiwa dan cara Yesus makan roti itu justru memicu kenangan, suatu anamnese mereka pada Yesus. Mereka melihat ekspresi di wajah Yesus, urutan tindakan-Nya dalam mengambil roti dan piala anggur, mengucapkan berkat, memecahkan roti dan kemudian membagikannya. Peristiwa ini membangkitkan harapan para murid Yesus. Petrus pernah dipenuhi dengan keraguan dan penolakan, kini setelah Pentakosta  ia dengan berani mengangkat suaranya mengabarkan Injil menjadi saksi kuasa Allah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati.

Semua rincian diatas menggabungkan model yang sangat kuat dan ekspresif dari perjalanan iman kita, mengakui Tuhan dalam pemecahan roti di Ekaristi dan memberi kita keteguhan dalam hidup. Sadarkah anda bahwa Yesus tetap berjalan bersama anda di dalam hidup anda?

15 May 2011 – HARI MINGGU PASKAH IV.

Kis. 2:14a,36-41; 1Ptr. 2:20b-25; Yoh. 10:1-10.

Yakub, dalam berkat untuk anaknya, Yusuf, menyebutkan bahwa Allah membimbing  dan menyertai dia dan umatnya seperti “Gembala yang baik.” Yehezkiel dalam penglihatan menemukan pemenuhan “Gembala yang baik” itu di dalam Yesus, Anak Daud dan Anak Allah. Ia menjaga kawanan dombanya bahkan memberikan nyawanya bagi mereka. Yesus juga mengambil gambaran bahwa Dia adalah Pintu Gerbang dimana domba-domba itu harus masuk melalui Dia.

Pada pintu gerbang pulalah Petrus pernah menyatakan cintanya kepada Yesus sampai tiga kali dan di pintu gerbang pula lah Petrus menyangkal hubungannya dengan Yesus. Tetapi kemudian Petrus berdiri di depan pintu gerbang lain melaksanakan tugas Yesus untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

Petrus mengatakan bahwa mereka pernah tersesat seperti domba yang hilang, tetapi sekarang mereka telah “kembali ke gembalanya”. Ia telah menyingkirkan semua keraguan yang menghambat komitmennya kepada Tuhan. Kita melihat Petrus memenuhi perannya di hari Pentakosta, Ia  mengangkat suaranya untuk memberitakan kabar baik, mendesak orang Yahudi untuk bertobat dan menerima baptisan. Petrus berbicara dengan kekuatan Rok Kudus, menyerukan pertobatan dan kepercayaan! Petrus mendorong kita melalui para penggantinya, yaitu para Paus untuk tetap setia pada janji yang kita buat pada saat pembaptisan.

22 May 2011 – HARI MINGGU PASKAH V.

Kis. 6:1-7; 1Ptr. 2:4-9; Yoh. 14:1-12.

Sering kita mendengar ungkapan “jangan biarkan hatimu gelisah!” Begitu pun para rasul sangat gelisah ketika Yesus mengatakan kepada mereka bahwa Dia akan pergi dan mereka tidak bisa mengikuti Dia. Akhirnya Yesus menghibur mereka bahwa Dia pergi ke rumah Bapa-Nya untuk mempersiapkan tempat bagi mereka sehingga mereka semua supaya dapat berkumpul bersama lagi dengan Dia. Tetapi para rasul, mendengar pesan ini untuk pertama kalinya, maka tidak heran kalau mereka benar-benar bingung.

Dalam Masa Paskah ini kita merayakan kemenangan Tuhan atas dosa dan kematian. Kita juga mengakukan iman kita karena janji hidup kekal yang diberikan kepada kita melalui baptisan. Thomas pernah mengatakan bahwa mereka tidak mungkin tahu jalan kemana Yesus pergi. Tuhan menjawab dengan kata-kata akrab “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup …” Yesus menyatakan bahwa jalan yang dipakai adalah jalan dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Yesus mengungkapkan bahwa disamping jalan, Dia juga kebenaran dan hidup, maksudnya dengan kata-kata ia berbicara kebenaran untuk kebahagiaan dunia yang diungkapkan dalam dialog-Nya dengan Pilatus. Dia juga mengungkapkan bahwa Dia adalah kehidupan, buktinya dengan memanggil Lazarus dari kubur dan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati.

Para rasul masih khawatir, maka Yesus mengatakan bahwa barang siapa melihat Dia, telah melihat Bapa. Bapa dalam Anak membawa orang kedalam keselamatan dan para rasul diajak dalam karya keselamatan itu. Yesus pergi kepada Bapa dan akan kembali untuk memberikan Roh Kudus. Kita melihat bukti bahwa para rasul menghadapi kemunduran dan kesulitan, tetapi mereka tidak kewalahan oleh kesulitan lagi setelah Pentakosta. Perbedaan dalam bahasa tidak lagi menimbulkan masalah bagi masyarakat. Melalui kuasa Roh Kudus, segala masalah teratasi.

Yesus mendorong kita untuk tidak membiarkan hati kita gelisah. Maka Petrus membimbing  komunitasnya untuk menghadapi kesulitan karena kesetiaan mereka kepada Yesus dengan mendorong mereka untuk menemukan kekuatan dalam Yesus. Tuhan adalah batu ditolak oleh pembangun yang telah menjadi batu penjuru mereka.

29 May -HARI MINGGU PASKAH VI.

Kis. 8:5-8,14-17; 1Ptr. 3:15-18; Yoh. 14:15-21.

Dalam perjamuan terakhir para rasul terkejut dengan berita bahwa Yesus akan segera meninggalkan mereka. Mengetahui ketakutan mereka ini, Yesus memberikan dua janji kepada mereka. Dia meyakinkan bahwa mereka tidak akan sendirian, Bapa akan segera memberikan mereka Roh Kudus yang selalu menyertai mereka.

Yesus berbicara tentang Roh Kudus sebagai “Advokat yang lain” karena ia juga adalah advokat bagi para rasul, membimbing mereka di sepanjang jalan yang mengarah kepada hidup yang kekal.  Yesus tidak akan meninggalkan kita seperti anak yatim tetapi menurut Injil Yohanes kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Ketika Tuhan bangkit, Dia mengamanatkan  Maria Magdalena untuk pergi ke saudara-saudaranya dan memberitahu mereka bahwa Dia akan “pergi ke rumah Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allahku dan Allahmu” (Yoh 20:17). Juga kabar gembira kepada mereka yang tidak percaya kepada-Nya karena Dia akan memberi kekuatan untuk mau menjadi anak-anak Allah” (Yoh 1:12).

Yesus meyakinkan rasul-Nya bahwa mereka akan memiliki kebenaran setelah Roh Kudus turun atas mereka. Dengan Pentakosta, kita juga diberi karunia-karunia Roh Kudus,  karunia-karunia ini termasuk didalamnya kebenaran, harapan, kehidupan, dan penyembuhan. Pengalaman diakon Filipus di Samaria bahwa dalam nama Yesus, ia telah melepaskan orang-orang dari kesakitan karena kuasa Roh yang membawa karunia penyembuhan.

Petrus dan Yohanes meletakkan tangan mereka dan berdoa akhirnya umat menerima Roh Kudus. Maka orang-orang yang pernah bermasalah dengan roh jahat menjadi orang  yang dipenuhi dengan Roh Kudus, akibatnya dunia ini menjadi tempat yang lebih cerah.

Paulus sepenuhnya sadar akan kesulitan yang dialami oleh orang Kristen dalam menghadapi perlawanan dan cemoohan karena mereka melaksanakan tidakan hidupnya dengan nilai-nilai surgawi. Tetapi Paulus menasihati mereka untuk mengambil setiap kesempatan untuk berbicara penuh dengan harapan yang mengisi hidup kita untuk dibawa kembali kepada kehidupan dalam Roh.

( F. de P. Mammouth KAMDP,OSC)