Pesan Ekaristi Bulan Juli 2011, Tahun Liturgi A / I

03 JULI 2011, HARI MINGGU BIASA XIV

Za. 9:9-10; Rm. 8:9,11-13; Mat. 11:25-30.
Banyak orang ingin tahu mengenai siapa tokoh Yesus yang katanya mengerjakan hal-hal yang hebat. Semua kegiatan hebat itu dilakukannya agar orang makin mengenal kehadiran Allah di dunia, khususnya agar orang dapat melihat bahwa Allah itu Allah yang peduli, bahkan Dia bisa dipanggil Bapa. Dalam saat-saat yang kurang menyenangkan, seperti ketika dimusuhi, ditolak. Disini kita diajarkan Yesus untuk ikut memikul salib. Maksudnya bukan pertama-tama untuk ikut berkorban, ikut menderita, dst., melainkan sebagai tanda terima kasih bahwa Yesus sudah mau menjalankan tugas yang diberikan Bapa-Nya dan kita menikmati hasil jerih payah-Nya. Ungkapan terima kasih inilah yang mendasari keselamatan kita, karena mampu mengucap syukur itu akan menemukan jalan lapang.

Yesus sebetulnya tidak mengecam orang-orang yang dengan upaya sendiri mau mengerti siapa dia dan mau tahu apa hubungannya dengan Allah. Sikap mau mengenal Yesus dengan upaya kebijaksanaan sendiri itu tidak membawa banyak hasil. Mereka nanti akan lelah, kecewa, hilangan arah dan hilang semangat. Tetapi Yesus menyatakannya rahasia Bapa-Nya itu kepada orang kecil. Menjadi orang kecil, maksudnya bukan orang miskin tak berharta, tetapi maksudnya adalah menjadi orang yang mau menerima tuntunan Allah tanpa pamrih.

10 JULI 2011 – HARI MINGGU BIASA XV.

Yes. 55:10-11; Rm. 8:18-23; Mat. 13:1-23
Ibu seorang penyanyi kecil, Samuel pernah mengeluh dan kawatir kalau anaknya gagal dalam belajar. Tetapi bagaimana hasil belajarnya atau nilai raport dia? Ternyata semuanya di atas angka tujuh, berarti bagus sekali. Ternyata saat di dalam kelas, ia sungguh mendengarkan apa yang diajarkan oleh para guru, itulah kunci sukses dia. Mendengarkan itu penting sekali dalam hidup kita. Maka Samuel sungguh memiliki keutamaan mendengarkan, sehingga ia menjadi artis kecil yang sukses dan pelajar yang sukses juga. Sabda Yesus saat ini perihal ‘penabur’ yang mengajak kita untuk mawas diri perihal keutamaan ‘mendengarkan’.

Ada tiga  jenis ‘tanah’. Berbatu melambangkan orang yang pikiran dan hati yang keras. Ditumbuhi duri menggambarkan orang yang mudah terombang-ambing oleh aneka berita, nasihat, saran dan ajaran. Akhirnya tanah subur menggambarkan orang yang rendah hati serta terbuka terhadap aneka kesempatan dan kemungkinan, terbuka terhadap aneka macam nasihat, ajaran dan saran.

17 JULI 2011 – HARI MINGGU BIASA XVI.

Keb. 12:13,16-19; Rm. 8:26-27; Mat. 13:24-43.
Dua pertanyaan besar dari sejarah manusia adalah mengapa ada kejahatan kalau kita diminta membela kebenaran? Banyak pemikir terus mencoba menjawabnya, tetapi belum ada jawaban yang pasti. Kedua, mengapa kita harus mempunyai  kebebasan dalam menentukan pilihan yang menentukan tindakan keputusan yang positif dan yang negatif.

Banyak orang mulai berencana berdasarkan niat baik dan indah bagi mereka sendiri maupun bagi orang lain. Tetapi banyak upaya-upaya besar itu hasilnya menjadi buruk dan kandas. Bangsa Indonesia menginginkan demokrasi dengan perjuangan layaknya maju perang, tetapi hasilnya kini adalah semakin menjadi sulit! Juga kehidupan dua orang kekasih yang menikah berdasarkan niat baik dan harapan yang indah. Kemudian dalam perjalanan malah menyusahkan hidup.  Jika kita jujur, kita melihat bahwa ada baik dan buruk dalam diri kita secara individual atau pun kolektif. Di mana-mana kita melihat dan menemukan campuran yang aneh dari apa yang benar dan apa yang salah.

Bacaan-bacaan hari ini menujukkan bahwa missi Allah mengutus Putra-Nya itu adalah untuk mengingatkan manusia supaya selalu kembali kedalam kebaikan. Dalam hal ini Allah bertindak dengan sabar dan penuh keugaharian. Tuhan memberikan kepada manusia waktu untuk membuat beberapa keputusan dalam memilih yang layak, benar dan baik. Dalam arti yang sangat nyata Allah itu tidak bermaksud mengutuk kita, tetapi menuntun kebebasan kita untuk menentukan pilihan. Kebebasan itulah bukti cinta Allah kepada manusia.

Kejahatan akhirnya akan terungkap dengan sendirinya dan menerima  konsekuensi dengan kesengsaraan. Dosa membawa penderitaan dan hukuman.

24 JULI 2011 – HARI MINGGU BIASA XVII.

1Raj. 3:5,7-12; Rm. 8:28-30; Mat. 13:44-52.
Ada perbedaan dasar antara harga beli dengan sebuah pengorbanan. Pembelian diarahkan untuk mendapatkan benda dengan nilai yang sama. Sebaliknya pengorbanan adalah suatu pemberian tanpa mengharapkan imbalan. Orang yang menemukan harta terpendam maupun pedagang mutiara membayar dengan harga yang sepadan. Mereka mendengar terbukanya kesempatan dan siap membayar harganya. Mereka memberikan semua yang mereka miliki supaya mendapatkan satu barang yang mereka inginkan, mutiara!
Kerajaan Sorga dan kesejahteraan serta kebahagiaan hidup itu diumpamakan seperti mutiara yang indah yang bermakna dan bahwa tidak semua orang mampu memiliki Kerajaan Sorga tersebut. Hanya orang yang mau mencarinya akan menemukannya, dan orang tersebut harus mengorbankan seluruh miliknya.
Penafsiran lainnya mengganggap bahwa mutiara dalam perumpamaan ini melambangkan orang-orang yang percaya yang dibeli oleh Yesus dengan darahNya (mati disalib).

31 JULI 2011 – HARI MINGGU BIASA XVIII.

Yes. 55:1-3; Rm. 8:35,37-39; Mat. 14:13-21..
Saat ini sering kali kita dihadapkan oleh persoalan yang terasa tidak mungkin bisa kita pecahkan. Kita jadi panik, bingung, rasanya tidak jalan keluar lagi, tidak ada harapan. Disaat seperti itu biasanya kita jadi sulit mengerti kesusahan orang lain apalagi untuk mendengarkan keluh kesah orang lain karena kita juga lagi susah.

Padahal kita bisa bercermin dari mukjijat penggandaan roti saat kita dihadapkan kepada situasi sulit.  Sebenarnya kita bisa melakukan seperti yang Tuhan Yesus perintahkan yaitu: mau berbagi dengan sesama, maka hal itu akan meringankan beban kita sendiri. Kita persembahkan sedikit yang kita punya itu kepada Tuhan, agar Dia sendiri yg menggadakannya untuk kita dan sesama.

Tindakan memberi membuat kita merasakan kedamaian, syukur dan pengharapan akan hasil yang lebih baik. Tuhan Yesus meminta kita percaya kepadaNya seperti saat Dia meminta para murid untuk memberi makan dan para murid mematuhinya, walaupun kelihatannya  saat itu tidak mungkin dilakukan.

Tuhan meminta para murid untuk berbelas kasih dan bertanggung jawab terhadap sesamanya, sesulit apapun keadaan mereka. Kesediaan untuk berbela rasa itu sangat berkenan bagi Tuhan.

Di jaman kini orang sibuk dengan urusan mereka sendiri, berbagi tidak saja bersifat materi tetapi juga hal-hal diluar materi malah lebih dibutuhkan, misalnya: memberikan waktu, pikiran, tenaga, dan perhatian kita, bahkan memberikan senyum juga merupakan hadiah yang sangat membahagiakan sesama kita.(F. de P. Mammouth KAMDP,OSC)

Tags: