Bersyukur Atas Panen

Bersyukur adalah sikap manusia yang sudah melekat pada setiap budaya, terlebih pada masyarakat agraris. Kalau dikatakan terutama dalam masyarakat agraris itu berarti ada kaitannya dengan pertanian terlebih dengan panen yang didapat. Mereka juga mudah bersyukur karena pada hakekatnya masyarakat agraris adalah masyarakat yang dekat dengan alam ciptaan yang gampang membawa mereka pada kesadaran akan keberadaan Sang Khalik, Sang Penciptanya, yakni Allah sendiri.

Kedekatannya dengan alam membawa mereka pada kedekatan dengan Sang Sumber Kehidupan, yakni Allah. Hampir di setiap suku budaya bersyukur seperti bisa kita temukan. Di kalangan masyarakat Sunda ada upacara “SEREN TAHUN”. Seren Tahun berarti menyerahkan tahun yang lalu juga tahun yang akan datang. Penyerahan tahun lalu dinyatakan dengan membawa hasil panen untuk dipersembahkan dan menyerahkan tahun yang akan datang berarti berharap akan berkat yang lebih baik kepada Hyang Widi, Tuhan Allah Sang Pencipta.

Hal itu diungkapkan dengan dua hal : pertama dalam ritual doa ibadat yang mendapat prioritas pertama, keduanya dalam bentuk persembahan yang akan dibagikan kepada sesama sebagai wujud sosial. Dengan demikian kita diingatkan bahwa sebagai insan ciptaan Tuhan harus menghayati  dua hal yang utama yakni membangun harmoni relasi dengan Allah Sang Pencipta (secara vertikal) dan membangun harmoni relasi dengan sesama, terlebih dengan yang kekurangan (secara horizontal). Semua yang hadir bergembira dan kemudian makan bersama sebagai wujud kebersamaan dan persaudaraan.

Dalam tradisi saudara kita Batak Toba dikenal dengan istilah “GOTILON”. Gotilon dari manggotil berarti memetik, maksudnya memetik hasil pertanian. Acara ini kini sudah diangkat menjadi tradisi Gereja setempat. Maka setiap stasi setiap tahun mengadakan pesta Gotilon tersebut. Setelah para Sintua (pegurus Dewan Stasi) memuntuskan waktunya maka keputusan itu diumumkan kepada umat.

Pada waktunya, umat akan membawa pasi yang akan dipersembahkan maupun untuk benih yang akan diberkati. Hasilnya dipersembahkan sebagai rasa syukur atas panen yang telah ‘digotil’ maupun permohonan berkat untuk masa yang akan datang dengan berkat atas benih padi yang dibawa. Seperti pada umumnya, pesta memuncak dalam acara makan bersama. Disitulah terungkap kegembiraan dan rasa sukacita bersama atas segala berkat dan kasih Tuhan.

Ada hal yang menarik dari persembahan mereka. Persembahan itu kemudian diserahkan kepada para sintua (penatua jemaat) sebagai tanda terima kasih atas bimbingan dan pelayanan mereka terhadap jemaatnya.

Entah dimanapun dan oleh kelompok manapun itu dilakukan tetapi ada hal-hal yang pantas kita simak. Pertama adalah bahwa sikap bersyukur adalah sikap manusia yang sadar akan hidupnya yang bergantung pada berkat dan Rahmat dari Allah. Rasa syukur itu diungkapkan dalam ritus yang biasa dihayati yang merupakan wujud dari bakti manusia kepada Allah Sang Penciptanya. Itulah yang disebut kesadaran religius. Kedua adalah bahwa kegembiraan itu semakin besar bila dinikmati bersama atau dengan berbagi dengan yang lain. Ini wujud dimensi sosialnya. Hal itu semakin diwujudkan dengan saling berbagi. Hidup kita seharusnya hidup yang selalu dipenuhi rasa syukur. Orang suci mengatakan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang bisa selalu bersyukur dalam hidupnya. Dengan demikian ia selalu mengakui bahwa hidup ini anugerah, hidup ini pemberian dari Allah. Dan pemberian itu tidak hanya membawa kegembiraan pada dirinya sendiri tetapi disempurnakan dan diperluas dengan kepedulian berbagi dengan sesama. Marilah kita menjadi orang-orang yang selalu bersyukur agar makin penuhlah sukacita kita dalam hidup ini. Semoga.(Pst T. Warhadi, OSC)