Kebebasan untuk Mencapai Kemerdekaan

Hampir setiap saat di pagi buta/ subuh sebelum sang surya timbul dari ufuk timur, saya selalu mulai menyetel TV Swasta. Setiap akan memulai dengan program siaran di pagi hari, TV tersebut selalu mengumandangkan lagu Indonesia Raya, kemudian disusul dengan menyajikan pembacaan teks asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Bung Karno The Founding Father. Sudah pasti sebelumnya saya berdoa pagi, dilanjutkan Doa Yesus dan Doa Rosario.

Saya pernah pergi ke RRC, disana saya mencoba naik sebuah kereta api ekspres, dimulai dari kota Guang Chou, ibukota provinsi Kuang Tung di Tiongkok Selatan menuju ke kota Fu Chou, ibukota provinsi Fu Chien di Tiongkok Timur. Perjalanan ditempuh satu setengah hari, jadi sempat pula bermalam satu hari di kereta api. Saat sebelum matahari terbut di sebelah Timur saya dikagetkan dengan berkumandangnya lagu kebangsaan RRC: Jilai, artinya Bangkitlah! Pada bagian dari syair lagu kebangsaan itu berbunyi sebagai berikut: Jilai Punjen Chou Nuli Te Remen artinya Bangkitlah hai umat manusia yang tidak ingin menjadi budak belian.

Teks proklamasi kemerdekaan ‘Declaration of Independence’ dari Amerika Serikat tahun 1776, hasil karya dari Thomas Jefferson dan sebuah deklarasi yang memuat semangat kebebasan juga terdapat pada saat Revolusi Perancis (th.1689) sedang berlangsung yaitu Liberte, Egalite, dan Fraternite yang dimuat di dalam naskah Declaration Des Droit De’lhome Et Du Citoyen. Pada tanggal 10 Desember 1948 PBB mengeluarkan sebuah naskah yang disebut The Universal of The Human Right yang melindungi hak- hak asasi perlindungan terhadap harkat dan nilai kemanusiaan. Human Value and Dignity.

Dalam Kitab Suci perjanjian lama kita dapat membaca kisah pengalaman Musa memimpin kaum bani Israel, suatu exodus dari penindasan dan perbudakan di tanah Mesir (Bdk. Kel 1-22). Dalam perjalanannya sebelum mereka sampai ke tanah yang dijanjikan Kanaan, mereka hidup di padang gurun empat puluh tahun lamanya mereka hidup kekurangan makanan dan minuman. (Bdk. Ul. 8 : 2-3; 14b-16a). Mengapa mereka bersedia menderita? Karena mereka hanya ingin memperoleh sesuatu  yaitu kebebasan. Suatu kesimpulan yang dapat ditarik disini : bahwa suatu kebebasan itu sungguh bernilai tinggi, luhur, dan abadi.

Theolog dan Filosof Katolik Thomas Aquinas (1225-1274) menyebut sebagai lex eterna dan lex naturalis. John Lock (1632-1704) mengatakan The Right of Men which came from Nature or God were supreme and to be encouraged. J.J Rousseau (1712-1778) mengatakan ‘Men are borned free but yet in chain (rantai).  Negara Inggris sebagai negara penjajah dengan semboyannya yang terkenal ’British rules the Wave’. Banyak pula Bill dan Piagam yang bertujuan melindungi hak- hak asasi manusia misalnya : 1. Petition of Right (1628) ; 2. Habeas Corpus Act (1679); 3. Declaration of Right atau Bill of Right (1689) dll.

Gereja Katolik juga tidak tinggal diam, berbagi konsili , terakhir Konsili Vatikan II (11 Oktober 1962 s/d 8 Desember 1965) para Bapa Suci telah mengeluarkan Ensilik yang isinya juga melindungi dan memperjuangan tentang kebebasan.

Menjelang kita memperingati dan merayakan HUT RI yang ke 66, marilah kita merefleksikan diri sejenak, sejauh mana kita telah memperoleh hak- hak kebebasan itu. Proklamasi Kemerdekaan dan UUD 1945 sebagai dasar hukum kita merdeka telah menjamin hak- hak  kebebasan bangsa Indonesia. Namun nyatanya kemerdekaan yang kita telah capai itu yang oleh Bung Karno disebut sebagai suatu jembatan emas, sebagai saran untuk mencapai tujuan kemerdekaan itu sendiri sebagaian masih dalam keadaan stagnan (mandek). Adapaun tujuan daripada kemerdekaan itu ialah:

  1. Membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia.
  2. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tanah tumpah darah.
  3. Memajukan kesejahteraan umum.
  4. Mencerdaskan kehidupan bangsa.
  5. Ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Khusus tujuan pada bagian nomor 2 (dua) sampai dengan nomor 4 (empat) sungguh menyedihkan. Tanah Indonesia yang dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa begitu subur dan makmur. Ijo royo royo loh jinawi sebagai Taman Eden, sekarang telah berubah dengan berbagai musibah banjir, longsor, perusakan ekosistem dengan penebangan hutan dan penambangan batu bara yang ilegal. Sungguh benar kalau orang mengatakan dalam sebuah lagu ‘Ibu Pertiwi sedang menangis.’

Keadaan yang demikian digambarkan sebagai akibat suatu Dosa Sosial yang pada akhirnya menjadi Dosa Para Individu. Tetapi kita diingatkan oleh Tuhan :Janganlah takut dan pesimis saatnya belum terlambat. Tanah air kita Indonesia tidak akan menjadi Sodom dan Gomora Jilid Kedua (Bdk Kej.19:1-29), asalkan mulai sekarang bersedia bertobat, tiada hari tanpa pertobatan dan kita harus senantiasa mengucapkan syukur bagi Allah atas kasih dan karunia-Nya (Bdk 1 Kor: 4-9) karena syukur bagi Allah yang dalam Kristus selalu membawa kami dijalan kemenangan-Nya (Bdk 2 Kor 2 : 14a). Marilah kita selalu berseboyan “ORA ET LABORA”, berdoa dan bekerja. (Bdk Yak 2 : 14-26). DIRGAHAYU HUT RI KE 66.Amin. (THOMAS A.H.TJAHJADI)