Novena Dalam Liturgi (Part 2)

Sambungan dari edisi BK Agustus 2011:

Liturgi dan Novena

Pada dasarnya novena termasuk wilayah devosi. Banyak bentuk novena, seperti yang sudah digolongkan dalam jenis-jenis di atas, terpisah dari kegiatan liturgi, meskipun ada satu dua bentuk yang dilibatkan dalam wilayah liturgi. Devosi dan liturgi tidak perlu dipertentangkan. Gereja mengajarkan bahwa devosi seharusnya terarah kepada liturgi. Jadi, liturgi sebagai kegiatan resmi Gereja memang berkedudukan lebih tinggi daripada devosi.

Pada Desember 2001 Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Sakramen pernah menerbitkan Pedoman  tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, yang memberi prinsip-prinsip dan tuntunan untuk praktik devosi dalam kaitannya dengan liturgi. Dalam Pedoman itu hanya disebut dua bentuk novena. Keduanya adalah novena-persiapan dan dikaitkan dengan liturgi, yakni Novena Pentakosta (no. 155) dan Novena Maria (no. 189).

Boleh dibilang, Novena Pentakosta bahkan dilakukan dalam bentuk liturgi. Teks-teks doa dan biblis yang terdapat dalam Misa dan Ibadat Harian dalam kurun waktu sembilan hari itu mengingatkan kita kepada harapan para Rasul akan kedatangan Roh Kudus. Mengganti doa dan bacaan liturgis dalam Misa Novena dengan doa/bacaan lain yang tak sesuai dengan tema penantian Roh Kudus itu rasanya berlebihan dan malah mengacaukan irama permenungan sekitar misteri Paskah Kristus. Upaya yang tidak tepat ini tampaknya masih dilakukan di banyak paroki. Lebih baik sebenarnya jika Novena Pentakosta dilakukan dalam perayaan meriah Ibadat Sore. Atau setidaknya, bila lepas dari liturgi,  Novena Pentakosta tetap mengacu atau mencerminkan tema-tema liturgis yang terkandung dalam liturgi untuk hari-hari sejak Kenaikan sampai Vigili Pentakosta.

Novena Maria juga disinggung dalam Pedoman, bersamaan dengan praktik triduum (tiga hari) dan septinaria (tujuh hari). Ketiga bentuk periode doa itu merupakan persiapan untuk menyambut hari-hari pesta Bunda Maria, khususnya untuk mendorong umat beriman agar dalam masa persiapan itu juga menerima Sakramen Tobat dan Ekaristi, serta mau memperbarui komitmennya sebagai orang kristiani, yang meneladan Bunda Maria, murid Kristus yang pertama dan paling sempurna.

Dua contoh Novena yang disebut dalam Pedoman di atas menunjukkan bahwa bagaimanapun juga “waktu dan model praktik kesalehan umat” sudah seharusnya selalu berkaitan dengan “waktu dan model perayaan liturgi”. Selaras dengan hasil Konsili Vatikan II, Pedoman juga mengatakan bahwa primas (keunggulan) liturgi hendaknya dihormati: “Liturgi adalah puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja, dan serentak sumber dari mana mengalirlah segala kekuatannya” (SC 10). Namun juga diakui bahwa: “hidup rohani tidaklah cukup hanya dengan berpartisipasi dalam liturgi” (SC 12). Keunggulan liturgi adalah karena liturgi merupakan tindakan Kristus sebagai Imam (Kepala) dan Tubuh-Nya, yakni Gereja, tindakan suci yang melampaui tindakan lainnya. Tak ada karya Gereja lainnya yang dapat menandingi daya dampak liturgi (bdk SC 7).

Mengedepankan keunggulan liturgi

Sejarah Gereja mencatat bahwa pada periode tertentu umat beriman lebih merasa dihidupi oleh bentuk-bentuk kesalehan umat ketimbang oleh liturgi. Kegiatan devosional dirasa lebih menarik dan mendalam bagi mereka. Liturgi dianggap tidak “popular”, kurang mengumat, karena tampak eksklusif milik hirarki. Pembaruan liturgi Konsili Vatikan II telah memberi arahan baru dan mempromosikan partisipasi umat dalam perayaan liturgi (Pedoman, 11). Maka, sudah selayaknya umat tak lagi menganggap liturgi itu ekslusif milik hirarki, tak melibatkan umat. Mungkin saja, umat zaman sekarang masih seperasaan dengan umat di masa lalu itu, sehingga menganggap bahwa devosi lebih mak nyuss daripada liturgi. Devosi dirasakan lebih menyentuh hati ketimbang perayaan Ekaristi. Ini rupanya akan selalu terjadi.

Seharusnya umat dan klerus diingatkan terus supaya makin memahami keunggulan liturgi di atas segala bentuk doa kristiani yang sah. Gelagat mengabaikan keunggulan liturgi mungkin tidak disadari sebagai sesuatu yang keliru. Lama kelamaan hal itu seperti tikaman perlahan yang mematikan pada liturgi, sehingga liturgi makin ditinggalkan. Orang bisa merasa sudah cukup puas dan tersegarkan hanya dengan melakukan praktik kesalehan dan devosi. Namun, sebenarnya dia tak pernah sampai pada puncak persatuan dengan Tuhan sendiri, yang terjadi dalam tindakan sakramental. Perayaan sakramental itu perlu dan wajib bagi umat kristiani untuk dapat mampu hidup dalam Kristus. Gereja sendiri mewajibkan umatnya untuk menghadiri perayaan Ekaristi pada hari Minggu. Sementara yang devosional itu bersifat opsional (bdk Pedoman, 12). Gereja tak pernah mewajibkan bentuk-bentuk kegiatan devosional tertentu, meskipun tetap menghargai dan amat menganjurkannya.

Dalam Pedoman no. 13 ditegaskan: “Perbedaan objektif antara praktik-praktik kesalehan dan devosional seharusnya selalu menjadi jelas dalam ungkapan ibadatnya. Namun, rumus-rumus (bentuk doa) khusus dari praktik kesalehan itu semestinya tidak dicampurkan dengan kegiatan liturgis. Kegiatan devosi dan kesalehan ada di luar perayaan sakramen Ekaristi dan sakramen lainnya.” Pernyataan ini bisa langsung menjawab pertanyaan yang sering muncul: benar atau tidak mendoakan novena dalam Misa? Menggabungkan atau menyisipkan praktik kesalehan/bentuk devosi apa pun, seperti novena dan litani non-liturgis, memang tidak tepat. Pencampuran itu justru tidak menghormati baik hakikat perayaan Ekaristi maupun esensi praktik kesalehan/devosi. Pemaksaan ternyata dapat merendahkan martabat keduanya. Kebiasaan keliru itu sebaiknya segera diakhiri. Ada cara mudah untuk pemecahannya, misalnya, bentuk doa-doa devosional semacam itu dapat dipanjatkan segera sebelum atau sesudah Misa. Jadi, tidak mengganggu Misa dan tidak mengusik primas liturgi. Dengan demikian harmoni antara devosi dengan liturgi terjaga dan kita tetap menghargai perbedaan masing-masing. Namun, semangat mengedepankan liturgi atau menjaga primas liturgi tetap dipandang sebagai hal yang penting, sesuai dengan hasil Konsili Vatikan II.

 

Sumber: Congregation for Divine Worship and the Discipline of the Sacraments, Directory on Popular Piety and the Liturgy (December 2001) dan lema “Novena” dalam Catholic Encyclopedia on CD-ROM.

C. H. Suryanugraha OSC

(Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia/ILSKI, Bandung)