Pesan Ekaristi September 2011, Tahun Liturgi A / I

04 September 2011, HARI MINGGU BIASA XXII

Yeh 33:7-9; Rm 13:8-10; Mat 18:15-20

Kita senang menilai dan mengkritik orang, mengklasifikasinya berdasarkan ‘tipe’ kepribadian tertentu dengan mengatakan, “Ah, sudahlah, kamu memang orang seperti itu.” Terlalu mudah untuk sepakat bahwa kita berbeda pendapat. Itu menjadi bukti bahwa kita sebetulnya tidak membantu apa-apa. Maka, sering sekali kita merasa putus asa terhadap orang-orang tertentu, entah karena mereka itu melanggar aturan ataupun bertahan dengan kekeliruannya. Bahkan ada yang menggunakan bacaan Injil hari ini untuk memperlakukan mereka sebagai pesakitan atau mengusir mereka pergi dari kelompok dan gereja. Orang mengira bahwa Yesus sendiri mengajar bagaimana mengabaikan dan mengecualikan orang-orang yang keras kepala dengan dosanya.
Kalau menuruti kemarahan atau kesombongan kita sendiri, kita akan kehilangan pesan kasih yang sungguh mengejutkan di balik kata-kata Yesus. Apa maksud Yesus saat meminta kita memperlakukan orang berdosa layaknya ‘pemungut cukai’? Mari kita simak baik-baik. Perlakuan Yesus terhadap mereka adalah “mengajak makan bersama!” Yesus tidak menunjuk-nunjuk pada kesalahan mereka?  Ia tidak pernah mengkritik atau menghukum orang berdosa. Ia malah duduk semeja dengan mereka, mengajar mereka dengan perumpamaan, dan menyuruh mereka pergi dalam damai. Sesungguhnya, mereka tidak pergi, tapi justru bertobat, dan mengikuti Yesus ke manapun Ia pergi! Dan salah satu  dari mereka menjadi murid setia-Nya, dialah Matius, penulis Injil ini.
Bagaimanapun, Yesus punya ‘cara’ yang luar biasa dalam hal mempertobatkan orang. Ia tidak gampang bereaksi emosional seperti banyak orang. Ia tidak suka mengkritik ataupun menyalahkan. Ia lebih suka mengajak mereka makan bersama, membawa kembali ke dalam persaudaraan iman, dan mempengaruhi mereka dengan tindakan kasih yang nyata. Namun ‘cara’ Yesus ini pun tidak disukai karena dianggap ‘terlalu lunak’ dan ‘tidak memberi efek jera’ kepada mereka. Tapi kalau kita masih mengaku diri kristiani, inilah cara yang terbaik dalam segala situasi.
Kalau kita menyangka bahwa hanya hukuman dan tekanan akan membuat orang jera, kita keliru. Pertobatan yang sejati berasal dari dalam hati, bukan karena kritik dan tekanan dari luar. Perubahan akan terjadi kalau kita belajar untuk lemah lembut, untuk menghormati keputusan orang lain, dan untuk memakai ‘cara’ Yesus ketika menghadapi sesama yang belum mau bertobat. Jangan menolak atau mengecualikan siapapun. Mukjizat akan terjadi setiap hari. Amin.

11 September 2011 – HARI MINGGU BIASA XXIV

Sir 27:30-28:9; Rm 14:7-9; Mat 18:21-35

Kadang-kadang minta maaf pun tak pernah cukup. Orang terbiasa ‘hitung-hitungan’, juga dalam hal kesalahan. Maka jangan heran kalau suatu saat kita minta maaf, tapi orang masih mau mempermasalahkan kesalahan kita, tak habis-habisnya. ‘Klarifikasi’ adalah kesombongan terselubung. Minta maaf saja tidak cukup, harus diklarifikasi dulu, begitu kata orang. Mengapa? Karena mereka tak mau sekedar melupakan. Konon melupakan itu melukai rasa keadilan. Orang-orang zaman ini terlalu membela mati-matian rasa ‘sakit hati’. Sakit hati harus dibalas. Harus impas. Baru setelahnya, seakan-akan bisa hidup dengan tenang. Barangkali fitnah adalah kekerasan nonfisik yang paling sering terjadi. Seseorang menjadi sakit-sakitan setelah difitnah oleh temannya sendiri. Ia ‘curhat’ ke mana-mana tentang bagaimana sakit hatinya karena difitnah padahal ia sekali pun tak pernah melakukan tuduhan itu. Karena temannya itu tak pernah minta maaf, ia pun tak mau memaafkan, apalagi melupakan. Kemarahan menjadi kebencian, kebencian menjadi penyakit dan penderitaan.

Petrus merasa sudah ‘melebihkan’ sebuah kebaikan di depan Yesus. Ia bertanya kepada Yesus apakah harus mengampuni sampai tujuh kali. Dalam tradisi Yahudi, pengampunan diberikan sampai tiga kali. Jadi tujuh kali itu pun sudah hebat. Namun Yesus lebih ‘hebat’ lagi. Bukan tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali. Maksudnya? Tak terhitung! Bagi Yesus, pengampunan bukan untuk dihitung-hitung.

Dalam perumpamaan yang disampaikan-Nya adalah soal orang yang jadi korban. Melunasi hutang sepuluh ribu talenta itu tidak masuk akal. Satu talenta = sepuluh ribu dinar. Satu dinar saat itu adalah gaji normal untuk sehari. Kalau satu dinar itu setara Rp 40 ribu, maka satu talenta itu Rp 400 juta. 10 ribu talenta = 4 trilyun! Artinya jumlah itu sebenarnya sama dengan ‘kamu-takkan-mampu-melunasinya, tak punya harapan lagi.  Maka, dilepaskan dari hutang yang ‘tak mungkin’ itu seperti lolos dari tiang gantungan. Siapapun harusnya bersyukur luar biasa dan mulai saat itu berubah karena masih diizinkan hidup. Di sinilah terletak kunci cerita ini. Seharusnya ia ‘bersyukur’ dan berubah karena diselamatkan! Tetapi kita sering ‘hitung-hitungan’ dan ‘mengklarifikasi’ dalam hal  mengampuni. Apakah kita lupa bahwa kita sekarang masih hidup itu karena Yesus sudah berkorban melunasi dosa kita? Ingatlah akan doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus, bahwa pengampunan kita adalah ‘syarat’ bagi pengampunan Bapa. “Ampunilah kesalahan kami, ‘seperti kami pun’ mengampuni…”

Yesus tidak bicara sedikitpun soal permintaan maaf kita sebagai sebuah syarat untuk pengampunan! Yesus hanya bicara soal keselamatan yang sudah kita terima, soal hidup yang sudah kita alami dan nikmati saat ini. Mulailah dengan bersyukur dan berterima kasih atas pengorbanan Yesus sampai di kayu salib karena kasihnya kepada kita. Mengampuni, sama dengan mencintai ‘tanpa syarat’ sekalipun kita jadi korban, Luka-luka kita, kita satukan dengan luka Kristus untuk menyembuhkan diri kita dan orang lain yang melakukan kejahatan, sebab, kita tak pernah bisa membayar impas kepada Tuhan. Maka seharusnya kita tidak akan memaksakan syarat apapun untuk mengampuni orang lain. Amin.

18 September 2011 – HARI MINGGU BIASA XXV

Yes 55:6-9; Flp 1:20c-24.27a; Mat 20:1-16a

Perumpamaan pekerja yang bekerja sejak pagi hari dan yang bekerja satu jam mendapat upah yang sama, satu dinar. Pemilik kebun menegaskan, bukannya ia berlaku tak adil tetapi kesepakatan upah sedinar telah disetujui. Ia merasa bebas memberi upah sedinar juga kepada yang datang belakangan. Jawaban ini menukas rasa iri hati orang yang melihat ia bermurah hati kepada orang lain. Sebenarnya kata-kata itu bukan hanya ditujukan kepada pekerja yang protes melainkan kepada siapa saja yang membaca dan mendengar perumpamaan ini.

Perumpamaan itu memuat sindiran bagi kita yang cenderung bertabiat mau mengambil lebih? Yang mudah iri bila melihat orang lain beruntung? Tetapi…. tak usah kita menyindir orang dengan menggunakan Injil. Karena bukan itulah maksud perumpamaan Yesus, kiranya juga tidak bertujuan menyampaikan kritik moral sosial yang perlu kita perkhotbahkan. Tujuannya ialah mengabarkan cara hidup dalam Kerajaan Surga.

Hampir dalam setiap lapisan masyarakat ada gagasan bahwa semua tindakan di bumi ini cepat atau lambat akan mendapat ganjaran sepadan di sini atau di akhirat, begitu pula kejahatan akan mendapat hukuman setimpal. Semacam balasan dari atas sana dengan menggunakan cara-cara seperti yang ada di dunia. Memang ajaran ini menjadi pengontrol perilaku individu. Tapi bila hanya itu, orang akan bertanya-tanya, bagaimana dengan orang yang tidak dapat berbuat banyak? Apa hanya sedikit ganjarannya nanti? Jadi nanti di akhirat ada tingkat-tingkat menurut ukuran yang kita kenal sekarang? Dengan perumpamaan hari ini Yesus mengajak kita semua menyadari bahwa Kerajaan Surga itu berkembang karena kemurahan hati Allah dan bukanlah dengan prinsip ganjaran bagi perbuatan di bumi. Di dalam Allah tersedia kesempatan yang sama baiknya bagi siapa saja. Inilah keadilan yang diberlakukan dalam Kerajaan Surga.

25 September 2011 – HARI MINGGU BIASA XXVI

Yeh 20:7-9; 18:25-28; Flp 2:1-11; Mat 21:28-32

Apakah yang akan kita lakukan dengan adanya kesadaran bahwa kita telah berbuat kesalahan? Boleh kita katakan bahwa kesadaran bersalah itu adalah langkah awal dari sebuah pertobatan. Sadar  dan mengakuinya itu bisa membawa kita kepada perbaikan, pembaharuan hidup dan menggerakkan kita ke arah yang konstruktif.

Langkah ini sangat penting dalam hidup kita karena akan menjadikan diri kita peka akan semua perbuatan dosa dan akan membawa kepada hidup yang lebih baik dan mendalam. Akibatnya kita akan berusaha untuk selalu maju, selalu bermetanoia, berubah terus menerus ke arah yang lebih baik dan lebih baru. Jika sebaliknya kita merasa bahwa diri kita tidak berdosa, maka sebenarnya kita mulai berhenti di dalam langkah hidup. Kita tidak bisa akan maju lagi.

Matius mengajak kita untuk selalu sadar akan kelemahan kita, menyesalinya, dan berusaha untuk maju dan hidup dengan lebih baik. Tuhan Yesus membentangkan sebuah perumpamaan yang berisi tentang sikap dan tingkah laku dua orang anak terhadap ayahnya.

Muncul jawaban dan respon yang berbeda, anak yang sulung menjawab: “Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi”. Seangkan anak kedua menjawab: “Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga”. Tetapi anak kedua yang pada awalnya menolak perintah ayahnya tetapi kemudian menyesal dan melakukannya, begitu pula para pemungut pajak dan para pelacur. Sekarang mereka memperbaharui hidup untuk menjawab tuntutan Tuhan Yesus dan masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dalam ayat 32 ada kesetaraan antara perumpamaan Tuhan Yesus dengan pelayanan Yohanes. Pertobatan para pemungut cukai dan pendosa ke jalan kebenaran itu menjadi “ilham” para imam kepala dan pemuka rakyat untuk menerima pewartaan Tuhan Yesus dan tidak menghadapiNya dengan rasa curiga dan kebencian.

Pertobatan itu memerdekakan dan sebagai bentuk penghayatan janji baptis dimana kita “diterjunkan” ke dalam kehidupan Allah Tritunggal. Walau dalam kehidupan nyata, ada saja yang mendorong kita untuk “keluar” dari “air kehidupan Allah ini”, tetapi kemudian ada kekuatan yang menariknya masuk kembali. Benar, hidup sering berada dalam sebuah “ketegangan” karena dengan ini jelaslah bahwa hidup kita itu adalah suatu perjuangan. Berjuang seperti Kristus, kita panggul salib-salib kita supaya dengan perjuangan ini kita bisa mendapatkan kebangkitan, pengetahuan hidup yang meringkankan dan membahagiakan langkah-langkah perjuangan kita di dunia. Kita singkat saja “In Cruce Salus” di dalam Salib terdapat keselamatan.(F. de P. Mammouth KAMDP,OSC)


Tags: ,