Api Penyucian

Bahasa Latinnya, p u l g a t o r i, artinya pemurnian. Yaitu keadaan orang yang meninggal dalam keadaan bersahabat dengan Allah, tetapi masih perlu membuat s i l i h atas dosa-dosa pribadinya, karena jasa Kristus, dan harus berkembang secara rohani sebelum menikmati pemandangan Allah yang mulia (visio beatifica). Teks-teks Kitab Suci yang dikutip atas ajaran pulgatory adalah 2 Makabe 12: 38-46 ; Mateus 5: 25-26 ; Mateus 12:31-32 dan 1 Korintus 3 :11-15.

Kitab Makabe menjelaskan, bahwa ada keyakinan di antara bangsa Yaudi yang hidup pada generasi akhir Perjanjian Lama, bahwa dosa-dosa yang tidak diampuni di dunia ini, setelah kematian harus ditebus. Doa-doa dan korban untuk mereka yang meninggal dapat menolongnya. Mereka percaya bahwa sesudah kematian ini ada masa penantian untuk membersihkan jiwa.

Pada Injil Mateus 12:32 disebutkan ‘ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dunia yang akan datang pun tidak’. Pada Injil Mateus 5:26 disebutkan ‘engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutang sampai lunas’. Kedua kalimat, ‘dunia yang akan datang’ dan ‘membayar hutang’ adalah menyatakan dua petunjuk tentang adanya tempat api penyucian, orang tidak akan dilepaskan dari ‘rumah tahanan/penjara’ tsb, jika tidak ditebus hutangnya yaitu jika dosa-dosanya tidak ditebus dengan doa-doa permohonan pengampunan dosa atau dengan minta itensi misa bagi yang meninggal. Pada 1 Kor 3:11-15, disebutkan ‘pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu’, menunjuk adanya api penyucian tempat memurnikan dosa.

Kendati teks-teks Kitab Suci tsb tidak secara langsung menyebutkan adanya Api Penyucian. Tetapi adanya API PENYUCIAN dapat dibenarkan dalam terang keadilan ilahi dan oleh praktek orang-orang Kristisni yang berdoa, sekurang-kurangnya sejak abad kedua, dan Merayakan Ekaristi, sekurang-kurangnya sejak abad ketiga, bagi orang-orang yang sudah meninggal. Sejalan dengan praktek mendoakan dan Merayakan Ekaristi untuk mereka yang sudah meninggal, para penulis Yunani seperti Santo Klemens dari Aleksandria, sekitar tahun 150-215. Origes, sekitar tahun 185-254. Santo Yohanes Chrisostomus, sekitar tahun 347-407 dan para penulis Latin seperti Tertulianus, sekitar tahun 160-225. Santo Cyprianus yang meninggal tahun 258 dan Santo Agustinus dari Hippo, tahun 354-430.

Mereka dengan berbagai cara menulis mengenai p e m u r n i a n sesudah kematian dan persekutuan kita dengan orang-orang yang kita cintai yang sudah meninggal melalui doa. Berdoa bagi orang-orang yang sudah meninggal terus dilakukan dalam liturgi Timur dan Barat. [Timur, liturgi Yunani dan Barat, liturgi Latin]. Konsili Lyons II tahun 1274 dan Konsili Florence tahun 1438-1445, MENGAJARKAN MENGENAI PENDERITAAN YANG DIALAMI SESUDAH KEMATIAN, OLEH MEREKA YANG BELUM PANTAS MENERIMA PEMANDANGAN ALLAH. Dua Konsili tsb mengajarkan bahwa mendoakan mereka akan memurnikan mereka dari dosa-dosanya, juga termasuk karya-karya saleh (puasa, amal) yang dipersembahkan kepada mereka.

Ajaran tentang API PENYUCIAN tsb, dikutip dari kumpulan ajaran resmi iman Gereja katolik atau dogma yang ditulis dalam dokumen-dokumen Gereja oleh dua Teolog yaitu Denzinger dan Schonmtzer (DS 856-857 ; 859 ; 1304-1305). Kendati kata ‘API’ tsb ditentang oleh orang-orang Ortodox, namun ajaran katolik tidak berubah. Bahkan Martin Luther, pendiri protestan, yang hidup pada tahun 1483-1546, pertama-tama menolak makna indulgensi bagi orang-orang yang sudah meninggal, dan kemudian menolak juga adanya Api Penyucian. [Indulgensi adalah pembebasan dari hukuman sementara yang disebabkan oleh dosa, yang sudah disesali dan diampuni. Penghapusan hukuman ini diberikan berkat jasa Kristus yang tanpa batas dan keikut sertaan orang-orang kudus dalam sengsara dan kemuliaan-Nya] .

Pada Konsili Trente, tahun 1545-1563, mempertahankan ajaran mengenai API PENYUCIAN, tidak mengatakan apa-apa mengenai hakekat dan lamanya orang berada di sana, dan menegaskan lagi arti mempersembahkan doa serta Ekarisi bagi mereka yang ada di Api Penyucian yang ditulis pada dokumen Gereja (DS 1580 ; 1820). Konsili Vatikan II dengan singkat mengingatkan kembali persekutuan kita dengan mereka yang sedang dimurnikan (dalam Api Penyucian) sesudah meninggal dan mendukung ajaran Konsili Florence dan Trente. (pengukuhan ditulis dalam dokumen Konsili Vatikan II Lumen Gentium, Terang Dunia no. 49 ; 51).
Keadaan di Api Penyucian dapat dimengerti sebagai proses terakhir mencintai Allah, namun juga mendatangkan sengsara sebelum kita memandang Allah berhadapan muka. Dengan hari pengadilan terakhir, Api Penyucian berakhir. (DS 1067).

Pada dasarnya semua orang meninggal apapun agamanya akan masuk dahulu pulgatori, sebab tidak ada manusia yang selama tinggal di dunia ini sudah hidup suci total. Sedangkan surga adalah tempat yang kudus, suci total, maka hanya bisa dimasuki oleh yang sudah suci pula, yang dalam Injil disebutkan ‘sudah berpakaian pesta’ (Mt 22:11). Kendati orang tsb murid Yesus, orang kristiani, orang katolik, yang sudah dibaptis artinya sudah ditebus, sudah diampuni dosa abadinya. Sebab dosa abadi tsb jika tidak ditebus Kristus, berakibat dibinasakan Allah.

Karena mereka sudah ditebus sehinga punya jaminan hidup surgawi yang pasti, namun tetap tidak otomatis masuk surga. Sebab selama manusia masih di dunia, sebaik apapun hidupnya, pasti punya dosa. Selama di dunia orang apapun agamanya tidak pernah sudah memiliki kesucian yang sama dengan surga. Karena berkat pembaptisan, orang akan dibebaskan dari kebinasaan kekal, tetapi masih selalu ada dosa, yang hukumannya harus diselesaikan dahulu di dalam pulgatori, di murnikan, disucikan dulu, sehingga hidupnya sudah sama dengan surga.

Jika sebelum meninggal orang telah menerima tiga sakramen, sakramen pengurapan orang sakit, sakramen pengakuan dosa dan sakramen ekaristi, maka semua dosanya diampuni, tetapi hukuman dosanya masih harus dijalani dulu di apai penyucian. Gambarannya seperti penyamun yang diampuni dosanya, ia langsung diajak masuk surga oleh Tuhan, tetapi ia harus menjalani hukuman mati disalib dengan segala siksaan dan penderitaan yang luar biasa mengerikan. Ia tidak dilepaskan dari salib dan bisa hidup bebas lagi.

Namun semua orang yang sudah meninggal tsb, kendati hidupnya di dunia ini sudah baik, pasti masih ada dosa-dosa yang tertinggal, apalagi sebelum meninggal tidak pernah menerima tiga sakramen yang disebutkan tadi, dan kendati ia punya jaminan hidup surgawi, karena orang katolik, tetapi selama didalam Api Penyucian, semua kaum beriman tsb sudah tidak bisa bertobat lagi, sudah tidak bisa memperbaiki segala perilakunya yang hitam selama di dunia, sudah tidak bisa membuat silih lagi, maka mereka sungguh-sungguh minta pertolongan kaum beriman di dunia ini untuk mendoakan mereka supaya segala dosanya diampuni dan hukuman dosanya makin dikurangi dan dibebaskan.

Khususnya para anggota keluarganya yang terdekat bertanggungjawab penuh untuk mendoakan mereka. Pada bagian awal tulisan ini, dikatakan bahwa mereka harus didoakan dan dimintakan itensi misa untuk pengampunan dosa mereka. Tetapi juga bisa dilakukan dengan membuat S I L I H untuk mereka yang sudah meninggal tsb dengan tindakkan kesalehan bisa berupa : puasa, mati raga, amal sosial, ziarah yang itensinya untuk nama orang tertentu saja, dan itu juga hanya mungkin dilakukan oleh para anggota keluarganya yang dekat juga. Namun intensi misa dalam ekaristi untuk mereka yang ada di Api Penyucian adalah doa yang paling besar kuasanya untuk mengurangi penghapusan dosa dan hukuman dosa seseorang, dibandingkan dengan doa biasa dan silih.

Namun mendoakan, minta itensi misa, membuat silih juga bisa dilakukan oleh orang lain, yang bukan keluarganya, semua perbuatan kesalehan tsb tetapi memang harus dilakukan umat beriman, sebab kita semua juga akan meninggal, kita kelak juga membutuhkan doa-doa kaum beriman yang baik, namun Gereja Katolik dalam doa Syukur Agung juga selalu mendoakan semua orang katolik, para murid Yesus yang sudah meninggal.

Berapa lama orang harus tinggal di Api penyucian, tidak pasti, sebab semakin orang mendapat doa-doa khusus lewat itensi misa dalam perayaan Ekariti dosanya makin cepat dihapuskan, begitu pula hukuman dosanya. Namun ada yang mengatakan, setiap orang yang meninggal ketika masuk api penyucian sudah tahu sendiri akan berapa lama ia akan tinggal disana, ada yang mengatakan tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, hingga ada mengatakan hingga empat tahun, bahkan ada yang mengatakan akan tinggal di pulgatori sampai kiamat.

Sebab setiap orang yang meninggal ketika masuk pulgatori sudah tahu tempatnya, ia akan menempati tempat di tingkat berapa. Ibaratnya pulgatori tsb seperti flat berjuta-juta tingkat, sehingga setiap yang meninggal sudah melihat sendiri tempat tinggalnya selama di pulgatori. Yang akan tinggal sampai kiamat pasti menempati tempat ditinggkat yang paling bawah, sebab dosanya hitam legam, atau selama hidupnya amburadul.

Bagaimana kuasa perayaan ekaristi bagi yang meninggal, pernah ada suatu kisah :
Pada th 1657 ada seorang anak gadis berumur lima tahun dan ibunya berkabung karena kematian ayahnya dan suaminya. Mereka pergi ke Moserrat. Mereka minta seorang imam untuk mempersembahkan MISA TIGA KALI demi keselamatan jiwa orang yang sudah dipanggil Tuhan yaitu ayah gadis itu dan suami ibu gadis itu. Ketika misa dimulai, gadis itu terkejut ketakutan dan berkata bahwa dia MELIHAT AYAHNYA PADA ALTAR SEBELAH KIRI BERADA PADA NYALA API. Pastor Bernard de Ontiveros tidak percaya kepada gadis kecil itu. Pastor de Ontiveros menyuruh gadis itu meletakkan sapu tangannya pada sisi kiri Altar, tempat bacaan pertama dibacakan yaitu bacaan epistola. Dan permintan pastor tsb ia lakukan dan sapu tangannya seketika itu juga langsung terbakar pula. Pada misa kedua, gadis itu melihat bapaknya berpakaian dengan jubah putih yang indah, dan sekarang tidak seorangpun meragukan gadis tsb. Pada akhir misa ketiga gadis kecil tsb melihat ayahnya naik ke surga dengan wajah berkilauan. (Pst M. A Joewono, OSC)