Pesan Ekaristi

Frater Franciscus de Paula Mammouth Kunto Adji Moeljanto Dwiputro, OSC

Frater Franciscus de Paula Mammouth Kunto Adji Moeljanto Dwiputro, OSC

Februari 2012, Tahun Liturgi B/II

5 Februari 2012
Hari Minggu Biasa V

Ayb 7:1-4,6-7, 1Kor 9:16-19,22-23, Mrk 1:29-39
Yesus itu datang untuk menyembuhkan jiwa atau tubuh? Jawabannya sangat sederhana, untuk jiwa dan tubuh yang tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Tanda penyembuhan jasmani ibu mertua Simon Petrus adalah tanda penyembuhan rohani Petrus itu sendiri. Rohani Petrus sembuh dalam arti bahwa ia sudah tidak lagi memikirkan diri-sendiri. Dia rela dipanggil untuk melaksanakan misi Tuhan sebagai Rasul Kristus. Kita juga ditugaskan Tuhan untuk melaksanakan misi keselamatan seperti para rasul.  Jangan takut, jadilah seperti Yesus yang berdoa saat memulai karyanya dan Roh Allah ada pada-Nya. Bukankah Roh Kudus juga berdiam di dalam kita oleh iman dan perbuatan kita karena “pikiran Tuhan” (1Kor 2:11). Maka kita pun dalam Roh Kudus mampu memperkenalkan bahwa Yesus itu Tuhan, Allah Sang Penyelamat seperti Santo Paulus menulis “tidak ada yang dapat mengatakan”Yesus adalah Tuhan’ kecuali oleh Roh Kudus.” (1Kor12: 3). Sementara Petrus juga mengatakan bahwa “Roh Kudus turun atas semua orang yang mendengar Sang Sabda.” (Kis10: 44).

12 Februari 2012

Hari Minggu Biasa VI Im 13:1-2,45-46, 1Kor 10:31-11:1, Mrk 1:40-45

Seorang penderita kusta berlutut meminta kepada Yesus dan berkata: ”Jika Engkau mau, Engkau dapat membuat saya tahir” yang berarti bersih. Karena penderita itu dibenci, ditakuti, diharamkan, dibuang oleh banyak orang. Daftar aturan tentang orang kusta dapat dilihat dalam Imamat 13-14. Dia harus meninggalkan keluarga, teman, mata pencaharian dan cara hidup, dalam arti kematian dari semua ikatan yang akrab dan intim. Iman akan Yesus dalam kalimat “jika Engkau Mau, Engkau dapat!” membuat Yesus pun mengulurkan tangan-Nya dan malah menyentuh orang yang diharamkan itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Penyembuhan telah membawa kegembiraan yang luar biasa, orang yang diusir dari masyarakat sekarang dapat mulai kembali meniti jalan hidup secara normal dan masuk kedalam keramaian dan tinggal di tengah-tengah kewajaran sosial.  Meskipun kita tidak menderita kusta secara fisik, kita mungkin menderita kusta spiritual atau berdosa. Ada sesuatu dalam hidup kita yang kita bawa yang membuat kita haram dan tidak layak untuk menjadi anggota masyarakat?  Yesus adalah Mesias, yang kudus dari Allah, Juruselamat yang tidak takut untuk menyentuh kehidupan terdalam kita yang tergelap, tersembunyi, sakit dan kotor. Marilah kita mendekati Yesus dengan iman dan kerendahan hati supaya hidup kita selalu layak di mata Tuhan dan sesama manusia.

19 Februari 2012

Hari Minggu Biasa VII

Yes 43:18-19,21- 22,24b-25, 2Kor 1:18-22, Mrk 2:1-12

Empat laki-laki ingin penyembuhan teman mereka dari kelumpuhan. Mereka ingin dia dibawa kembali ke dalam masyarakat sebagai anggota yang mempunyai peran. Mungkin mereka berpikir, jika dosa teman mereka telah menyebabkan kelumpuhannya maka perlulah dia mendapatkan pengampunan supaya sembuh. Maka mereka membawa teman mereka itu kepada Yesus.
Besarnya iman orang yang membongkar atap untuk menyelamatkan saudaranya dari lumpuh itu menyebabkan Yesus berkata: “Anak-Ku, dosamu telah diampuni!” Hal ini memberi tanda layaknya si lumpuh itu kembali kedalam keluarga manusia – masyarakat yang bergerak, bekerja dan hidup. Mukjizat tidak untuk membuktikan otoritas yang benar dari Yesus, sebaliknya, tujuan mujizat adalah untuk penyembuhan dan mengintegrasikan kembali yang terbuang itu kembali ke dalam gerak hidup masyarakat pada umumnya karena menerima pengampunan dosa. Apakah kita merasa bertanggung jawab sebagai sebuah komunitas yang mempunyai iman kolektif dan doa-doa komunitas untuk mengangkat orang yang tak berdaya itu mendapatkan pertolongan? Yesus menjawab kepada kita bahwa keempat iman orang lain itu mengawali kebahagiaan teman mereka. Membangun masa depan memang perlu tekad dan kecerdikan yang didukung atau ditandu oleh orang lain.

26 Februari 2012
HARI MINGGU PRAPASKAH I

Kej 9:8-15, 1Ptr 3:18-22, Mrk 1:12-15
Yesus tinggal di padang gurun selama empat puluh hari, digoda oleh setan. Perkataan yang sama digunakan untuk kata ketika Yesus mengusir setan dari orang yang kesurupan. Ini adalah tindakan yang kuat dari Roh Kudus. Padang gurun yang tenang dapat dijadikan tempat untuk refreshing dari kejenuhan, namun di zaman Yesus gurun adalah tempat mengerikan yang sedapat mungkin dihindari. Gurun adalah haram, maka air dapat dijadikan simbol membersihkan diri secara ritual di padang gurun. Lebih jauh lagi, padang gurun dapat menjadi tempat persembunyian yang aman untuk orang buangan, pencuri, pelarian dan bandit perusak. Oleh karena itu, gurun adalah tempat di mana manusia hindari dan berusaha keluar darinya, tempat suram, berbahaya, yang menguras apa pun yang murni dan benar. Dalam pengaturan ini Yesus tidak hanya berpapasan dengan setan, tetapi sesuatu dari litani pilihan antara cinta manusia dan holding kekuasaan atas orang lain, antara sekarat atau menempatkan diri di dalam kerendahan hati, antara menaklukkan yang jahat atau merangkul yang jahat, antara mencintai musuh atau membasmi musuh, antara mendirikan kerajaan cinta atau membangun sebuah dinasti kediktatoran. Yesus tidak ditinggalkan Allah Bapa untuk melakukan pertempuran sendirian tetapi Ia didampingi untuk mengalahkan Setan.  Apa artinya kita harus menghadapi Prapaskah ini? Apakah kita percaya bahwa Roh pelindung Yesus itu adalah Roh Allah seperti Allah yang membuat Yesus keluar dari kedalam padang gurun pengalaman dan berhasil keluar darinya.

(F. de P. Mammouth KAMDP,OSC)