Honeste Vivere (bagian 2)

Hiduplah Dengan Jujur!

Pastor Matheus Antoro Juwono, OSC

Pastor Matheus Antoro Juwono, OSC

Iman, agama, Allah sesungguhnya adalah bingkai hakekat manusia, bingkai hati nurani manusia, bingkai jati diri manusia, seharusnya hidupnya semakin sempurna. Sebab tanpa bingkai agama monotheis apapun jika manusia memang mampu mengerahkan dan memberdayakan hakekat hidupnya yang murni, akan menjadi manusia besar, manusia agung. Bahkan bisa menjadi manusia sejajar, sekaliber Sidarta Gautama atau Kong Hu Chu, yang nota bene mereka tidak pernah mengenal Allah monotheis dalam Wahyu Allah, namun mampu memberdayakan hakekat dirinya mendekati sempurna. Apalagi jika manusia hidupnya dibingkai, diresapi, dikuasai oleh Agama Monotheis, Agama Wahyu Allah, bakal menjadi sempurna dalam memberdayakan hakekat dirinya.

Maka mengaku beragama, beriman pada Allah yang monotheis, tetapi jika hanya menghasilkan orang-orang yang bermental dan berwatak bonek, gali, preman, pencoleng, bromoncorah, penjahat yang berdasi atau berjubah, sesungguhnya masih layak disebut manusia bar-bar, sebab jati dirinya yang sejati tenggelam, kandas dan nyungsep. Itulah akibat arogansi manusia yang sok pinter sendiri, maka keblinger, merekayasa kebenaran sejati menurut logikanya yang hanya sebesar sekepal tinju atau sebesar batok kelapa.

Bagaimana mungkin mau memahami kebenaran Allah yang sejati dan serba maha, lalu dapat disimpulkan menurut logikanya sendiri, dan menurut perasaannya dianggap sudah selaras menurut kehendak Allah. Selain itu, karena manusia  hanya bercermin pada dunia luar dirinya, yang gegap gempira berlomba bagaimana dapat mengeduk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan jalan apa saja, tidak peduli dengan jalan pintas, tidak peduli dengan menghalalkan segala cara. Budaya kompromi, kolusi, koropsi, suap, tahu sama tahu, yang sudah merebak dari tataran kalangan atas hingga akar rumput dijadikan profesornya, dosennya, gurunya, kiblatnya, maka sungguh nyata logikanya dan imannya super-super jongkok.

Apapun alasannya orang buang muka ketika diajak bicara perkara kejujuran, ketulusan, kebenaran, kesucian, tetapi hidup manusia tidak ditentukan oleh dunia dari luar dirinya semata-mata, tetapi sekaligus ditentukan oleh firman Tuhan, “Manusia hidup bukan dari roti saja, dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mt 4:4), dan hidup manusia sekaligus tergantung total pada Allah. Maka orang harus sekaligus berani mengandalkan Allah, dan menjadikan Allah adalah jaminan hidupnya yang sejati.

Begitu pula figure Yohanes Baptis yang mengaku ‘Aku bukan Mesias’, adalah kiblat orang beriman dalam mengadopsi kejujuran, khususnya kejujuran beragama, kejujuran beriman, kejujuran berallah. Sebab jika manusia sudah tidak jujur dalam penghayatan agamanya, imannya, maka otomatis akan tidak jujur pula terhadap kehidupan yang serba fana dan profan. Sebab yang sakral saja dijungkir balikkan, apalagi segala kehidupan yang serba real dan konkrit, yang tiap saat dihadapinya.

Yohanes Baptis beridentitas : nabi, rasul, rabbi, pengkotbah, rahib, pertapa, imam. Ia anak Zakaria, seorang imam, otomatis ia juga imam.  Hidupnya digarap, diolah masuk ke dalam padang gurun, menyelami keakraban hidup dengan Allah dan alam, menyelami kehendak Allah, menyelami panggilan Allah yang sejati, berpuasa, bermati raga, hidup sangat sederhana, dengan pakaian dan makanan yang sederhana. Penghayatan hidupnya keras, mengikuti jejak nabi Elia, menempa diri  menjadi pribadi religius yang handal, bermartabat kenabian, menjadi saksi iman, menjadi saksi Kristus, menjadi rasul.

(Pst.M. A Joewono, OSC) bersambung…

Tags: ,