Dua Peser Satu Duit

Topik di atas disadap dari injil Markus 12:42. Di mana Yesus memuji janda miskin yang memberi derma dari kekurangannya. Tetapi sesungguhnya Yesus memuji janda tsb, terutama karena imannya yang berani total bergantung pada Allah, berani mengandalkan Allah, berani menjadikan Allahnya adalah jaminan hidupnya yang sejati. Sehingga pujian Yesus tsb menandaskan bahwa setiap orang, entah hidupnya serba kekurangan atau tidak pernah kekurangan, namun karena hidupnya berani mengandalkan Allah, mereka adalah orang beriman sejati, sebab imannya jujur, lurus, bening, murni, tanpa cacat.

Bagi orang tsb iman dan agama bukan hanya sekadar tambahan, bukan pelengkap, bukan baju, bukan kedok, tetapi menjadi kesatuan yang melekat dengan hatinya, jiwanya, rohnya, batinnya, logikanya, bahkan bagaikan nyawanya sendiri yang berharga dan bernilai. Sehingga mereka itu dalam bahasa biblisnya akan disamakan dengan orang-orang yang dikatakan dalam Sabda Bahagia : “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” [Mat.5:3].

Orang yang hidupnya serba kekurangan, namun iman katoliknya kepada Kristus dan Gereja-Nya tetap utuh, tangguh dan perkasa. Iman katoliknya tidak pernah luntur, hancur dan gugur. Sehingga dalam sikon hidup untung atau malang, selamanya imannya  tidak pernah berubah. Iman katoliknya tetap mantap berserah diri total pada Allah, bergantung total pada Allah, mengandalkan Allah tanpa gentar dan miris menghadapi hidup ini. Mereka dalam bahasa biblisnya akan selalu disebut “miskin dihadapan Allah.”

Sebab mereka adalah orang-orang yang hidupnya tidak pernah memutlakkan segala miliknya, kendati hidupnya tidak pernah berkekurangan di dunia ini. Tetapi hidupnya dihayati tidak bergantung pada dunia, tidak tergantung mutlak akan ha-hal yang fana, tidak terikat dengan segala miliknya, kendati hal-hal yang fana tsb dicari dengan kerja keras, bahkan orang tidak mutlak terikat kepada keluarganya yang sangat dicintainya, sebab keluarganya, daging darahnya sendiri pun termasuk akan hal-hal yang fana. Sehingga segala hal yang fana kendati sangat berharga di dunia ini, bagi hidupnya bukan hal yang mutlak, hidupnya tidak melekat akan hal-hal yang fana, baginya segala hal yang fana kendati berharga adalah  relatif .

Sebab keselamatan ilahi hanya datang dari Allah, dan tujuan final hidup yang sejati, bahwa yang berasal dari Allah akan kembali kepada Allah, maka hidupnya yang mutlak harus melekat pada Allah.

Keselamatan hidupnya yang sempurna dalam Allah, tidak ditentukan oleh dunia, tidak ditentukan oleh barang-barang miliknya, dan bukan berasal dari usaha manusia. Maka jikalau di dunia ini terjadi ‘chaos’, sikon buruk, namun sikon tsb tidak menakutkan, tidak menggentarkan. Sebab hidupnya sudah memiliki jaminan keselamatan yang pasti dalam Allah. Jika sikon ‘chaos’ tsb menggilas hidupnya, dan seluruh hidupnya hancur  lebur, tanpa bekas, namun hidupnya sudah siap siaga, sudah berjaga-jaga. Sehingga kapan saja jika harus kembali kepada Allah, dirinya sudah layak menghadap Allah.

Pujian Yesus pada janda yang miskin tsb adalah signal ilahi yang menyatakan, bahwa orang yang tidak memiliki iman yang menyamai janda tsb, sebenarnya imannya masih lembek, lemah, rapuh, dan keropos. Maka orang yang memiliki  iman yang menyamai janda tsb hidupnya pasti berada di jalan Allah, penghayatan imannya pasti : tekun, saleh, setia prinsipiil, berpendirian tangguh dalam mempertahankan kebenaran Allah. Juga dalam menghayati imannya tidak penah minta balas jasa pada Allah, tidak penah menuntut balas pada Allah, tidak pernah protes pada Allah.

Sebab segala hal yang disebut : perintah Tuhan, kebenaran Allah, kebenaran iman, kebenaran agama, kebenaran Injil, kehendak Tuhan dengan semaksimal mungkin dihayati, dijalani, dinyatakan, dibuktikan dalam hidupnya dengan taat tanpa syarat. Semua itu dilakukan saja  dengan setia dan tekun, serta tidak mau melanggarnya, sebab takut berdosa. Kendati hidupnya rapuh dan keropos, jangan sampai mudah jatuh ke dalam lumpur dosa. Sebab tidak ada artinya menjadi murid Tuhan dalam teks dan konteks iman katolik, kalau mudah jatuh dalam dosa. Sebab jika demikian dimana fightnya, dimana tindakkan sucinya untuk menjadi orang benar dan dibenarkan Allah.

Maka selama hidupnya bagi orang yang ‘miskin di hadapan Allah’  tidak pernah merasa sudah menjadi orang yang benar, baik, saleh, suci, berjasa dihadapan Allah, atau terhadap agamanya atau terhadap Gerejanya. Kendati segala hal kebenaran iman apa saja, yang harus dilakukan dalam rangka hidup beriman dan beragama, mereka lakukan saja, tidak pernah berdalih dan tidak pernah membenarkan diri.

Maka hal lain yang mengagumkan orang yang berjiwa miskin dihadapan Allah, adalah memiliki iman seperti Bunda Maria, hidupnya percaya total pada firman Tuhan pasti akan terlaksana dalam hidupnya. Sebab orangnya memang tekun, setia, tangguh hidup di jalan kebenaran Allah yang nyaris sempurna, bahkan hidupnya selalu mengandalkan kasih karunia kebaikan Allah adalah jaminan hidupnya, hidupnya selalu serah diri total pada Allah dan tidak pernah ragu-ragu imannya kepada Allah. Sebab beriman yang tulen, murni, sejati, hanya berkadar sembah bakti kepada Allah, serta setia dan tekun menjadi abdi Allah apapun kondisi dan situasi hidupnya atau sejelek dan seburuk apapun hidup keadaannya.

(Pst. M. A Juwana, OSC)