Sukacita, Rekoleksi Lingkungan GRAHA MEGATERAN

Romo Yosef membawakan refleksi rekoleksi umat Lingkungan Megateran

Romo Yosef membawakan refleksi rekoleksi umat Lingkungan Megateran

Pada tanggal 22 Juli 2012, lingkungan Graha Megateran mengadakan rekoleksi keluarga dengan tema “Sukacita”. Acara ini dihadiri 44 peserta termasuk di antaranya beberapa undangan dari lingkungan lain. Inspirasi untuk mengadakan rekoleksi ini mungkin berawal dari nazar sebuah keluarga. Sebuah nazar tidak mesti atas dasar apapun, dan bisa saja timbul dari semacam kerinduan sederhana untuk mengajak teman-teman berkumpul bersama, sejenak undur diri dari hiruk-pikuk kehidupan, pergi ke “tempat sunyi”, merenungkan hidup kita, dan menemukan sukacita dalam hal-hal sederhana, di tengah tantangan hidup yang berat.

Kerinduan ini mendapatkan jalan melalui banyak pribadi yang terpanggil untuk mewujudkannya: pak Sugiarto, bapak ketua lingkungan yang menyambut dengan semangat, para koordinator sublingkungan, Bu Shierly dan pengelola Spirit Camp yang menawarkan tempatnya dan menyediakan pembimbing gratis acara anak-anak (agar orangtuanya bisa fokus dalam rekoleksi), dan para anggota lingkungan yang menyambut acara ini. Dan pasti bukan kebetulan juga bila Tuhan mengutus Romo Yosef Doni Srisadono, MSC untuk menjadi pembimbing (Beliau adalah sahabat keluarga Setyawan-Lydia. Terimakasih kepada keluarga Setyawan-Lydia yang telah menjadi jalan).

Rekoleksi ini menjadi selingan yang menyegarkan karena dirancang secara sederhana. Tidak membahas dogma-dogma secara teoritis, tidak perlu memeras akal pikiran untuk mengikutinya. Romo Doni, MSC merancang rekoleksi ini menggunakan bahasa hati. Jadi kami diajak untuk tidak menggunakan akal pikiran untuk memikirkan materi yang diberikan secara teoritis, tetapi menggunakan kesederhanaan hati untuk memahami dan menangkap pesannya.  Romo memulai sesi dengan menjadikan dirinya sebagai cermin, sehingga dari sharing pengalaman hidup Romo sendiri, peserta diajak untuk “berkaca”, merenungkan bagaimana setiap pribadi menghadapi dan memaknai peristiwa hidupnya sendiri.

Broken heart: hancurnya hatiku!

Pengalaman broken heart (tidak mesti diartikan sebagai “patah hati”, namun bisa merupakan pengalaman apapun yang merupakan badai dalam kehidupan) menimbulkan suatu kekosongan yang mendalam di hati manusia: suatu ruang gelap yang tidak terduga dalamnya. Kekosongan yang sama pernah dialami oleh Kristus sendiri saat berdoa di taman Getsemani hingga berpeluh darah, dan berdoa “Ya Bapa, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku”. Juga ketika disalibkan di Golgota, Ia berseru “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Pengalaman seperti ini membuat manusia berusaha mengisi kekosongan dalam dirinya dengan melakukan berbagai hal yang dianggapnya akan dapat memberinya pengalaman “dipenuhi”/ dipuaskan sejenak, dan seolah-olah itulah sumber sukacita kita. Misalnya: kompensasi dengan berprestasi setinggi mungkin, membenahi penampilan fisik agar dipandang orang, mengejar materi, jabatan, dll. Tetapi semua itu sifatnya dangkal. Sehingga bila kita kecewa atau  terinjak sedikit saja, kita akan merasa kehilangan nilai diri sehingga membuat diri kita serasa hancur lagi, bahkan meradang, menyalahkan orang lain, situasi sekitar dan bahkan menyalahkan Tuhan!

Karena begitu besar kasih Allah

Dengan menayangkan beberapa vidoe klip, Romo Doni mengajak peserta untuk menemukan sukacita dalam hal-hal sederhana. Selanjutnya kami diajak untuk menemukan pesan indah dalam Yoh 3:16 : Karena begitu besar kasih Allah.  Peserta diajak untuk memahami pesan itu, lalu menyadari bahwa hidup kita ini semata-mata adalah anugerah yang luar biasa, dan kesadaran akan hal ini dapat mengisi kekosongan hati yang terluka tadi.

Akhirnya adalah Sukacita

Akhirnya peserta diajak untuk memahami bahwa dasar sukacita kita bukanlah hal-hal yang dangkal seperti: dikagumi karena penampilan atau prestasi, usaha yang maju, materi berkelimpahan, tubuh yang sehat sempurma, dan lain-lain. Dasar sukacita adalah lebih mendalam:

  1. Kemampuan untuk percaya kepada kasih Allah.
  2. Kemampuan untuk melepas. Apa yang harus dilepas adalah: kelekatan terhadap materi, pribadi-pribadi tertentu, prestise, prestasi, kedudukan, rasa marah atau kecewa. Termasuk di dalamnya kemampuan untuk mengampuni.
  3. Kemampuan untuk bersyukur setiap saat
  4. Kemampuan untuk memikul beban hidup sebagai salib. Itulah yang diajarkan Yesus ketika Ia pada akhirnya mengatakan “Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu-lah yang terjadi”.

Rekoleksi yang berlangsung selama dua jam ditutup dengan acara  ramah tamah sambil membawa hasil permenungan hari itu ke dalam hidup sehari-hari: tindakan konkrit apa yang bisa aku lakukan dalam hidupku untuk menemukan sukacita itu? Semoga kesempatan ini menjadikan umat lingkungan lebih akrab satu sama lain, dan memberi pencerahan dalam kehidupan sehari-hari yang kompleks. ( Dedeh S)