Kaum Muda Jangan Meniru

Pada waktu tahun 80 an Mgr. Sowada OSC, Uskup Agats, mempunyai kebijakan tersendiri dalam hal perkawinan. Pasangan suami isteri kendati sudah hidup bersama tidak perlu cepat-cepat diberkati di gereja. Apa alasannya? Bapak Uskup berpikir lebih baik kalau memang pasangan tersebut sungguh-sungguh sudah rukun barulah diberkati di gereja. Maka tidak aneh kalau kala itu seringkali terjadi “perkawinan masal.” Pernah terjadi ada pemberkatan sekaligus 25 pasang. Rasanya mulut sampai capek karena harus nanya satu per satu dan mendengarkan tiap pasangan mengucapkan janji perkawinan.

 

Kendati mereka sederhana, sebelum pemberkatan mereka harus melakukan penyelidikan kanonik. Ada persiapan ala kadarnya. Bagaimana mereka dipersiapkan agar mereka dapat membangun keluarga kristiani yang rukun, damai dan sejahtera. Maklum di pedalaman perkelahian dalam keluarga hampir setiap hari terjadi, entah siang, entah malam hari. Inilah salah satu alasan mengapa pasangan suami isteri diberkati setelah mereka benar-benar rukun. Pada waktu pemberkatan tidak aneh kalau ada pasangan yang sudah punya anak dua, anak satu atau ada seorang ibu yang sedang mengandung, bahkan mengeluarkan ”anggota badan” karena sedang menyusui.

 

Tetapi yang paling asyik itu pada waktu dilakukan penyelidikan kanonik. Selalu saja ada peristiwa-peristiwa yang aneh dan lucu-lucu membuat orang lain tertawa. Pada suatu hari seorang suami dipanggil ke pastoran untuk penyelidikan kanonik. Sang pastor menunggu sampai lama sekali. Pastor melihat kok hanya suami yang datang. Maka pastor mendekati suami tersebut dan bertanya, ” Yakobus, ada di mana isterimu.” Dengan tenang Yakobus menjawab,” Pater, isteri saya ada, tunggu.” Pastor kembali lagi masuk ke pastoran menyelesaikan tugasnya.

Setelah agak lama pastor mendekati Yakobus dan bertanya lagi, “Yakobus, ada di mana isterimu.” Dengan tenangnya Yakobus menjawab,” Pater, isteri saya ada. Dia ada di hutan. Dia sedang cari sagu dan udang. Dia ada untuk mencari makan. Coba pater bayangkan kalau isteri saya tidak ada bagaimana kami hidup. Kami butuh makan juga.” Dengan senyum-senyum pastor bertanya lagi, “Jadi isterimu tidak pulang kampung?” Sekali lagi dia menjawab,” Lho pater tadi kan bertanya. Ada di mana isteri saya. Ya saya katakan ada. Tetapi ada di hutan bukan di kampung. Tetapi dia ada.” Wow pastornya kalah satu kosong dengan umatnya yang sederhana itu. Yakobus tadi ternyata hanya menangkap sepotong pertanyaan sang pastor “ada”, dan bukan menangkap seluruh kalimat yang disampaikan pastornya. Inilah yang dikatakan salah komunikasi, atau komunikasi yang tidak nyambung.

 

Hari makin malam, lampu pastoran sudah mulai memancarkan sinarnya. Yakobus pulang ke kampungnya, tetapi belum bisa melakukan penyelidikan kanonik. Sang pastor senyum-senyum sendiri. Berbicara dengan orang-orang yang sederhana harus menggunakan bahasa sederhana dan yang bisa mereka tangkap. Saya bayangkan kalau pastor tadi bertanya apakah isterimu ada di kampung? Mungkin jawabannya akan lain, dan tidak perlu menunggu berjam-jam hingga larut malam.

 

Pelajaran yang bisa kita petik bersama adalah dalam kesederhanaan, mereka tetap mau mempersiapkan perkawinan mereka. Dalam upacara perkawinan mereka tetap mengucapkan janji akan setia pada pasangannya kendati hal itu tidak mudah. Karena adat masih sangat kuat di lingkungan suku Asmat. Muda-mudi yang tinggal di kota besar, seperti Bandung ini jangan tiru mereka, yaitu membereskan pernikahan setelah punya anak. ( Pst. A. Sudarno, OSC)

 

Tags: