Susunan Liturgi Ekaristi ( bag III)

Kehadiran Diakon dan Akolit dalam Perayaan Ekaristi

Persiapan altar, meja Tuhan dapat dilayani juga oleh seorang diakon dan akolit yang hadir dalam perayaan Ekaristi.  Persiapannya sebagai berikut: sesudah Doa Permohonan, saat persiapan persembahan, selebran utama tetap duduk di kursinya. Diakon menyiapkan altar dibantu oleh akolit mengatur kain korporale di atas altar; tetapi pengaturan bejana-bejana kudus dilakukan oleh diakon sendiri. Menyiapkan buku Tata Perayaan Ekaristi (teristimewa bagian Liturgi Ekaristi) di atas altar juga. Kemudian diakon membantu selebran utama menerima bahan persembahan roti dan anggur yang diberikan oleh umat, membawa ke altar, dan mengaturnya. Ia menyerahkan kepada imam selebran patena dengan roti atau hosti di atasnya untuk diunjukkan. Sesudah itu, pada meja-samping ia menuangkan anggur dan sedikit air ke dalam piala, sambil berkata dalam hati,  Per huius aquae – sebagaimana dilambangkan…, lalu menyerahkannya kepada imam untuk diunjukkan. Bila dipakai dupa, diakon mendampingi imam waktu mendupai bahan persembahan, salib, dan altar. Kemudian diakon atau akolit mendupai imam dan umat [PUMR 178].

Bila diakon tidak hadir dalam Perayaan Ekaristi, sesudah Doa Permohonan akolit mengatur korporale, purifikatorium, piala, dan buku Tata Perayaan Ekaristi di atas altar, sementara imam selebran tetap duduk di kursinya. Kemudian, kalau perlu ia membantu imam selebran menerima bahan persembahan umat dan membawa roti serta anggur ke altar untuk diserahkan kepada imam selebran. Kalau diadakan pendupaan, akolit membuka pedupaan bagi imam dan mendampingi dia ketika mendupai bahan-bahan persembahan, salib, dan altar. Kemudian, akolit mendupai imam dan umat [PUMR 190]. Namun, jika diakon atau akolit tidak hadir dalam Perayaan Ekaristi, imam selebran sendirilah yang mempersiapkan bahan-bahan di atas meja altar, dibantu oleh putera-puteri altar, termasuk ritus pendupaan.

[B] Doa Ekaristi: Simbol Kristus Bersyukur

Anaphora – prex EucharisticaDoa Syukur Agung adalah pusat dan sumber dari Perayaan Ekaristi sebab merupakan pokok tertinggi dari keseluruhan perayaan. Doa Syukur Agung dipahami sebagai doa ucapan syukur Yesus kepada Allah Bapa atas perbuatan-Nya yang agung demi pengudusan diri manusia. Seluruh umat beriman yang hadir karena martabat pembaptisan dalam Kristus berhak dan wajib berpartisipasi secara aktif dalam Doa Syukur Agung Yesus ini sebagai “selebran” = “yang merayakan” Ekaristi melalui gerak dan kata dirinya. Karena itu, keterlibatan diri secara penuh dalam Doa Syukur Agung ini, pertama-tama dihantar oleh daya kreasi selebran utama yang memproklamasikan doa ini, dan kemudian konsentrasi hati dan pikiran umat beriman lainnya melalui ekspresi diri atau bahasa tubuh secara konkrit: melihat dengan mata tindakan-tindakan selebran utama di altar, mendengar dengan telinga suara selebran utama yang memproklamasikan isi doa syukur yang dialamatkan kepada Allah Bapa, dengan pengantaraan Kristus Putera-Nya dan seluruh umat menyatakan keyakinan imannya dengan cara mengungkapkan atau menyanyikan aklamasi-aklamasi.

Doa Syukur Agung dimulai, sejak selebran utama mengundang seluruh umat untuk mengangkat, mengarahkan hati kepada Tuhan melalui dialog pembuka antara pemimpin dan umat; dia menyatukan persekutuan umat dengan dirinya dalam doa yang ia alamatkan kepada Allah Bapa atas nama seluruh anggota komunitas Gereja melalui Yesus Kristus pengantara dan dalam Roh Kudus yang mempersatukan. Karena itu, maksud dari Doa Syukur Agung adalah agar seluruh anggota komunitas umat beriman menyatukan dirinya dengan Kristus untuk mengakui perbuatan Allah yang agung, besar dan untuk mempersembahkan kurban syukur kepada-Nya. Partisipasi aktif seluruh umat beriman sepanjang Doa Syukur Agung terutama mendengarkan dan mengakui perbuatan Allah dalam diri Kristus melalui keheningan dan melihat dengan hormat tindakan-tindakan Kristus sendiri yang dihadirkan kembali oleh selebran utama [PUMR 78].

Dengan demikian, partisipasi aktif seluruh umat secara utuh dalam Doa Syukur Agung dinyatakan melalui ketenangan hati dan penghormatan diri yang mampu menghantar keseluruhan perhatian dirinya kepada perbuatan Allah melalui tindakan dan kata Kristus di Altar: melalui roti dan anggur persembahan diri Kristus; ucapan syukur bersama Dia; dan dalam Dia pula seluruh umat beriman yang berkumpul (sebagai simbol persembahan Gereja) mempersembahkan diri dan hidupnya bersama Kristus kepada Allah Bapa yang kekal dalam persatuan Roh Kudus.

Pada buku Tata Perayaan Ekaristi 2005 yang diterbitkan dan dipromulgasikan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), terdapat DSA I – DSA X. Untuk maksud pembelajaran, maka sekarang kita hanya menggunakan DSA II sebagai suatu contoh konkrit untuk memahami makna bagian-bagian dari Doa Syukur Agung dan unsur-unsur pembentuk Doa Syukur Agung dengan jelas. Lebih daripada sekedar pemahaman umat diarahkan supaya terlibat aktif di dalam Doa Syukur Agung sepanjang selebran utama memproklamasikannya ( bersambung…. Pst. Tinus Sirken, OSC)