Sabda Yang Menyembuhkan

Siapa yang tak pernah menderita? Kita semua pernah menderita walau masalah dan kadarnya bisa berbeda. Salah satu masalah yang dialami adalah penderitaan akibat luka batin. Luka batin disebabkan oleh kenangan akan peristiwa menyakitkan di masa lampau. Peristiwa itu mungkin sudah berlalu sekian lama, namun dampaknya masih membekas, membuat orang teringat lagi, tidak damai, tidak bahagia, dan terhambat perkembangan hidupnya.

Sabda Tuhan yang menyembuhkan adalah tuntunan bagi kita yang ingin mengalami kesembuhan luka batin. Maksud penyembuhan luka batin adalah pembebasan dari rasa benci, dendam, penolakan, marah, tertekan, bersalah, takut, sedih, rasa rendah diri, menyalahkan orang lain, perasaan tidak berguna dan emosi-emosi negatif lainnya. Dikatakan dalam Kitab Mazmur (147:3): “[Tuhan] menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.”Beberapa tahap berikut dapat membantu kita mengolah luka batin, namun harus dengan keyakinan bahwa Tuhan akan membantu kita dalam proses itu.

1. Motivasi untuk disembuhkan

Motivasi adalah dorongan yang menggerakan seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Dorongan untuk penyembuhan luka batin tiap orang tidak sama. Ada yang mempunyai dorongan kuat, tapi ada juga yang mau tenggelam dalam luka batinnya. Ada banyak alasan orang tidak mau sembuh. Salah satunya adalah kecemasan menyangkut masa depan yang belum jelas. Sebagai contoh, seseorang yang merasa tertekan atas perlakuan pasangannya diminta keluarganya pergi ke psikiater. Tetapi tidak ada dorongan untuk sembuh. Ia lebih senang dengan keadaannya itu untuk menarik perhatian keluarganya. Dia merasa cemas kalau sembuh, keluarganya tidak memperhatikannya lagi. Untuk sembuh, modal pertama ialah mau disembuhkan.

Kita dapat belajar dari pengalaman perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan (Matius 9:20-22). Dia mendekati Yesus dengan motivasi yang sangat kuat.“Asal kujamah jubah-Nya, aku akan sembuh”. Yesus menanggapi keinginannyadan bersabda, “Teguhkanlah hatimu, hai anakku, imanmu telah menyelamatkan engkau. ”Jika kita datang kepada Yesus, harus ada motivasi ingin disembuhkan. Kita membutuhkan sentuhan kuasa Yesus agar menyembuhkan diri kita.

2. Karakter

Dari pengalaman pergaulan sehari-hari, kita bisa menangkap bahwa ada dua tipe orang, yaitu yang berpikiran negatif dan positif. Yang pertama melihat segala sesuatu dari sudut pandang negatif. Orang ini merasa punya banyak masalah. Berhadapan dengannya, kita akan mendengar berbagai keluhan. Ia tidak puas dengan hidupnya, seolah-olah tidak ada yang baik. Tipe kedua melihat hidupnya dari sudut pandang yang terang. Ia mampu membedakan apa yang adalah masalah dan yang bukan. Ia bisa memberi makna positif atas tiap ‘masalah’. Kita perlu menyadari kecondongan kita, dan mengarahkan diri pada pemikiran positif. Sebuah peristiwa dapat menjadi bibit luka batin karena kita tafsirkan negatif. Itu sebabnya orang bisa memendam kemarahan lama sekali. Untuk mempermudah penyembuhan, kita harus menguasai pikiran kita.

Yesus memberi contoh dua dasar yang dipakai orang membangun rumah (Matius 7:24-27). Ada orang yang membangun rumah di atas pasir maka rumahnya roboh, dan yang membangun rumah di atas batu rumahnya berdiri kokoh kuat. Keputusan untuk membangun rumah di atas pasir atau batu adalah buah pikiran. Pikiran mempunyai kekuatan mempengaruhi kondisi fisik dan mental seseorang, dari detak jantung, nafas, dan fungsi organ dalam hingga penyakit-penyakit yang berasal dari pikiran manusia. Jika kita ingin sembuh, kita harus melepaskan pikiran negatif dan memilih yang positif.

3. Iman

Dalam Injil Matius 9:21-31 diceriterakan dua orang buta yang mengikuti Yesus dan minta disembuhkan. Yesus bertanya, “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.”Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Maka meleklah mata mereka.

Iman kedua orang buta itu mendorong untuk datang kepada Yesus. Pernyataan iman mereka yang minta bantuan Yesus menunjukkan bahwa iman sungguh menyembuhkan. Iman menghasilkan mujizat penyembuhan. Beriman berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada yang diimani, membutuhkan sentuhan kuasa Yesus untuk kesembuhannya. Iman seperti itulah yang diharapkan ada pada kita kalau ingin disembuhkan oleh Yesus. Disini iman berarti yakin dan percaya bahwa Yesus dengan kuasa penyembuhan-Nya mampu melakukan apa yang diminta. Penyembuhan luka batin terjadi di saat kita mempercayakan dan menyerahkan segala beban batin kita kepada Yesus.

4. Pengampunan

Para ahli terapi kejiwaan sering menggunakan pengampunan sebagai salah satu cara penyembuhan luka batin. Luka batin terjadi karena pengalaman menyakitkan dengan orang lain. Maka, penyembuhan terjadi kalau kita mau mengampuni orang yang telah meninggalkan luka dalam diri kita. Yesus menunjukkan bahwa Ia menyembuhkan bukan hanya secara fisik tetapi juga psikis dalam pengampunan dosa. Dalam Injil Lukas 5:17-26 Yesus menyembuhkan orang lumpuh, namun sebelumnya Yesus bersabda: “Hai saudara, dosamu sudah diampuni. ”Baru setelah itu, Ia bersabda, “Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu.”Pengampunan menjadi kunci penyembuhan.

Banyak orang merasa sulit mengampuni apalagi terhadap orang yang telah menyakiti hatinya. Yang diperlukan ialah kesadaran bahwa penderitaannya disebabkan oleh orang lain sehingga ia marah, benci, atau mengalami emosi negatif lainnya. Sadar bahwa tidak ada damai karena luka batin, seharusnya mendorong orang memutuskan untuk sungguh berubah agar lepas dari penderitaannya. Perubahan hanya nyata kalau ada tindakan. Di sini kita terbuka terhadap diri sendiri untuk memilih yang terbaik, yaitu kesediaan mengampuni diri sendiri dan orang lain yang telah melukai. Kerelaan mengampuni memberi rasa nyaman, lega, dan bahagia. Di saat itu kita mulai dibebaskan dari luka.

5. Bersyukur kepada Tuhan

Banyak sekali hal yang kita terima dari Tuhan. Demikian juga ada banyak peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita. Pada tahap terakhir ini, kita diajak menyadari segala anugerah Tuhan dalam hidup kita. Kita mohon kepada Tuhan agar seterusnya mampu menangkap segala rahmat-Nya dari setiap peristiwa hidup yang kita alami. Kalau kita bersyukur atas semuanya itu, kita bisa berkembang dalam hidup dengan melihat dari sudut pandang positif segala peristiwa yang kita alami.

Jika kita masih mempunyai luka batin dan ingin sembuh, kita dapat mencoba merenungkan dan menjalankan kelima tahap ini. Kesembuhan ditandai dengan damai di hati kita. Kita menemukan semangat baru karena lepas dari beban yang selama ini terpendam, dan kita dapat berelasi kembali dengan baik, akrab, dan membahagiakan.Tuhan memberkati.

P. Yoyo Yohakim, OSC