Setitik Cahaya dalam Kegelapan

Ada suatu cerita tentang seorang recidivist yaitu seorang yang telah beberapa kali melakukan tindak pidana kejahatan. Sudah beberapa kali ia keluar masuk penjara, tidak ada penyesalan dan perbaikan untuk tidak melakukan perbuatan yang tercela dan berubah menjadi manusia yang baik dan berguna bagi masyarakat.

Suatu ketika orang itu melakukan kejahatan tindak pidana lagi yaitu ia melakukan pembunuhan yang keji kepada seorang janda yang mempunyai tiga orang anak yang masih kecil, perlu pemeliharaan dan pendidikan orang tuanya.  Janda tersebut sudah agak lama ditinggalkan oleh suaminya yang meninggal dunia. Hakim Pengadilan Negeri merasa tidak ada alasan apapun untuk meringankan hukumannya. Recidivist itu dijatuhkan hukuman mati. Segala upaya hukum telah dilakukan, baik melalui Pengadilan Tingkat Tinggi (Banding), Mahkamah Agung (Kasasi) atau Peninjauan Kembali (PK) tidak dapat merubah tuntutan hukuman mati itu. Oleh team eksekutor, pelaksanaan hukuman mati dengan cara ditembak sampai mati oleh sebuah regu tembak akan dilaksanakan di suatu pulau kecil yang terpencil jauh dari penghuni manusia. Pada saat recidivist beserta regu tembak itu berlayar sampai di tengah-tenga laut yang cukup dalam dan deras, tiba-tiba terdengar suara yang nyaring, tolong, tolong….. tolong! . Suara itu terdengar datangnya dari perkampungan nelayan di seberang laut itu. Orang itu meminta pertolongan untuk seorang anak kecil yang terhanyut oleh ombak laut. Suara itu terdengar oleh recidivist dan para regu tembak itu. Para regu tembak tidak dapat berenang, hanya  recidivist itu sendiri yang pandai berenang dan bersedia menolong anak kecil itu karena tergerak hatinya dan menaruh belas kasihnya terhadap anak itu. Oleh karena rasa belas kasih itu, regu tembak itu mengijinkan recidivist itu untuk menolongnya. Belenggu di tangan penjahat itu dilepaskan dan ia segera terjaun ke laut dan berhasil menyelamatkan nyawa anak itu. Ibu anak itu dan seluruh penghuni kampung nelayan itu menyambut baik dan gembira recidivist itu. Mereka mengelu-elukan dan menggendong penjahat itu sebagai pahlawan juru selamat nyawa seorang anak. Para nelayan itu mengajukan surat grasi – Surat pengampunan kepada Presiden sebagai Kepala Negara yang berhak mengabulkan atau menolak permohonan grasi itu. Ternyata Presiden mengabulkan permohonan grasi itu dan membebaskan recidivist itu dari hukuman matinya. Menjadi bebas seutuhnya sebagai layaknya seorang manusia yang bebas memiliki hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dari kisah cerita tadi, mengajak kita untuk merenungkan sejenak bahwa sesungguhnya kepada setiap manusia yang tercela dalam hidupnya karena perbuatannya seolah-olah tidak ada lagi celah-cela atau lorong kasih, lorong harapan dan tepatnya ada lorong cahaya yaitu lorong Kristus Yesus.

Pada umumnya orang cenderung melihat bahwa beberapa kejahatan besar yang telah dilakukan oleh seseorang itu dinilai orang itu sungguh jahat dan menghakiminya. Tidak ada seorangpun membicarakan tentang sesuatu kebaikan/ kebajikkan yang berada di dalam diri orang jahat itu. Orang jahat itu akan menjadi suatu objek pembicaraan yang mengasyikan dan menyudutkan orang itu. Berbeda dengan Yesus yang selalu melihat ada lorong-lorong cahaya, kasih dan harapan yang dapat menjadikan orang itu bertobat, menemukan jalan/lorong baru yang penuh cahaya dan harapan.

Kita dapat melihat dan membaca dalam Injil Lukas 19:1-10 tentang seseorang yang bernama Zakheus, seorang pemungut cukai. Bagaimana orang banyak menilai seorang pemungut cukai, pemeras rakyat. Namun Yesus menilai berbeda dengan penilaian orang banyak, bahwa di dalam diri Zakheus tidak hanya gelap seluruhnya, diantara gelap/kejahatan itu terdapat juga lorong-lorong kebaikan, lorong kasih dan lorong cahaya untuk menjadi bertobat dan menjadi manusia baru. Demikian juga dalam Injil Yohanes 8:8-11. Seorang wanita yang berdosa tertangkap tangan melakukan perzinahan oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Menurut Hukum Taurat wanita itu telah berbuat dosa berat karena itu ia harus dirajam dengan pelemparan batu hingga mati. Tetapi Yesus tidak berbuat demikian, ia mengampuni dosanya agar ia bertobat dan tidak berbuat dosa lagi. Yesus memberikan harapan baru, ia tidak menghukum mati agar lorong-lorong cahaya itu tetap berada dan bercahaya di seluruh sudut-sudut hati sanubari setiap manusia yang berkehendak baik. Pandangan Yesus itu benar. Wanita itu Maria Magdalena menjadi murid Yesus yang setia. Ia menjadi saksi Kristus dalam pewartaan Kabar Gembira-Nya. Diantara kegelapan pasti ada lorong-lorong cahaya. (Nanny Tjahjadi)