Harmonisasi Sebuah Kabar Gembira

Mbak Anjar hadir di tengah dialog  Kebangsaan Pelangi Itu Indah

Mbak Anjar hadir di tengah dialog Kebangsaan Pelangi Itu Indah

Tanda bahwa Tuhan murah hati tercermin dari apa yang dilakukan pengikut-Nya. Berikut ini kisah Kasih dalam semangat melayani yang diberikan seorang Romo Carolus. Diawali dengan sambutan dari Pastor Paroki Santa Maria Sapta Kedukaan malam itu ,”…mengikuti kegiatan Pastoral Keuskupan Bandung 2014 dengan Tema Dialog Kebangsaan dihadirkan seorang Romo yang berasal dari Cilacap, kita akan menimba inspirasi dari Romo Carolus, yang telah memperlakukan sesama sebagai manusia yang bermartabat, sesuai dangan Ajaran Sosial Gereja”.

Hari itu, Jumat 24 Januari 2014, ada sebuah kegiatan yang diprakarsai  Seksi Hak dan Kerawam tentang perjuangan Romo Carolus.
Moderator kegiatan ini adalah Anjar Anastasia yang bersama kawan-kawan telah mengarang sebuah buku “MAFIA IRLANDIA DI KAMPUNG LAUT” sebuah jejak-jejak Romo Carolus OMI dalam memperjuangkan kemanusiaan. Pastor Charles Patrick Burrow OMI, adalah Pastor Paroki St. Stephanus Cilacap, yang kemudian lebih terkenal sebagai Romo Carolus, berasal dari Irlandia dan “terdampar” di Cilacap, adalah nara sumber kegiatan malam itu, maka Romo ” londo” (orang asing, bule) menyampaikan dengan semangat tentang perjuangannya.

Tahun 70-an untuk pertama kalinya Romo Carolus hadir di Kampung Laut. Romo yang mengaku tidak punya keterampilan tapi suka coba-coba ini membuka klinik kesehatan untuk membantu mengobati warga. Romo pun pernah bertugas menjadi tenaga medis dan dengan sukarela mengobati warga Kampung Laut, hal ini terjadi bila paramedis tidak dapat hadir karena terhalang medan yang terlalu sulit. Beliau bahkan pernah dihebohkan membaptis disana, padahal sedang mengobati mata seorang anak. Hambatan pada awal mula karyanya di Kampung Laut, tidaklah membuat karya Romo Carolus terhenti.
Mengandalkan semangat para warga diadakanlah sebuah program padat karya, untuk membangun jalan  dan warga yang berpartisipasi diberi imbalan bulgur. Hadirin yang hadir di aula gedung Pastoral Paroki, dengan antusias mendengarkan uraian yang telah diupayakan di Kampung Laut, sebuah desa terpencil yang terisolasi di Cilacap nun jauh disana.

Ketika Anjar menanyakan kapan datang  dan apakah Romo akan meninggalkan Indonesia Romo Carolus menjawab , ” saya WNI pada tahun 1983″, Romo yang berusia 71 tahun menyampaikan pula bahwa ,” saya mencintai  Indonesia dan mau mengakhiri hidup di sini”( maksudnya di Indonesia). Hadir bersama Romo Carolus  Bapak Prayitno, seorang kepala dusun yang sudah mengenal beliau sejak tahun 1973, “Sebelumnya saya sangat benci pada londo itu, saya yang kurang pendidikan mengangap dia penjajah”, ujar Pak Prayit sambil menunjuk kearah Romo Carolus. Tetapi kini bapak yang mengaku warga asli Kampung Laut sungguh-sungguh merasa bersyukur,”… dengan kehadiran Romo Carolus, sekarang Kampung Laut sudah jauh lebih baik, ada akses jalan yang menghubungkan antar kampung, sistim pertanian dibangun sehingga para warga bisa menanam padi”.

Tema kegiatan adalah Pelangi itu Indah, sepertinya panitia hendak menyampaikan bahwa pada pelangi yang terdiri dari berbagai warna yang berbeda tercermin keindahan yang memancar. Lebih daripada itu Romo Carolus memancarkan indahnya kasih, ” kekatolikan saya ini belum 20%, bagaimana saya bisa mengkatolikkan orang lain?”, demikian beliau menyampaikan. Dengan jujur Pastor yang mempunyai selera humor tinggi ini menyampaikan bahwa beliau adalah murid Yesus yang lumayan,” kalau mau jadi murid Yesus harus cerdik seperti ular tapi tulus seperti merpati, berarti saya sudah 50%  menjadi murid Yesus ha ha ha……, pernah suatu hari saya datang ke kampung laut, ibu-ibu tua berlari sembunyi di bawah  meja, mereka kira saya penjajah “. Maka semua yang hadir tertawa. Beberapa ungkapan langsung diatas menyatakan betapa Romo Carolus, memiliki pribadi yang humoris, tulus, dan inspiratif.

“Kita harus menjadi pembawa kabar baik dan empati kepada kesusahan sesama. Dalam ketidak sempurnaan kita dapat saling tumbuh, untuk menyempurnakan iman. Pak Prayit dan saya seiman karena sama-sama menyembah Tuhan yang satu, saya tidak dapat mengajak warga Kampung Laut menjadi penganut kristiani karena sayapun belum sungguh-sungguh Katolik. Saya hanya menjalankan perintah Yesus. Saya berusaha menampakkan ke dalam kristiani dan ke luar menjadi manusiawi. Saya mewartakan kabar sukacita, menjadikan bumi seperti di surga, hidup dalam persaudaraan dan saling mendukung untuk menyempurnakan dunia “, Romo Carolus menyampaikan harapannya.

Semangat solidaritas pada tema pastoral keuskupan yang lalu kemudian menumbuhkan belarasa dan fokus pada dialog kebangsaan yang didasarkan pada keterlibatan yang mengakar. Kerjasama yang biasa dilakukan kemudian menjadi sama-bekerja, kita dituntut hidup bersama masyarakat disekitar kita. Pada kolekte terkumpul dana Rp. 4.400.000,00 , sebuah bentuk solidaritas dari warga paroki untuk mendukung perjuangan Romo Carolus. Pelangi indah tetapi yang terindah adalah perdamaian dan persaudaraan, demikian Pastor Didi memberi kesimpulan dari pertemuan malam itu.

(Wiwit )

Antusiasme umat yang tinggi terhadap tema ini

Antusiasme umat yang tinggi terhadap tema ini

Pst Didi Tarmedi, OSC sebagai moderator acara

Pst Didi Tarmedi, OSC sebagai moderator acara

Pst Hendra mendampingi Pst Carolus di aula Paroki Pandu

Pst Hendra mendampingi Pst Carolus di aula Paroki Pandu