Mie Panjang Umur

Potongan kue pertama diberikan kepada seniornya, Pst Darno

Potongan kue pertama diberikan kepada seniornya, Pst Darno

Hari itu 46 tahun kemudian, dari tanggal 7 Januari 1968  ada seorang pastor yang berulang tahun, Pastor Basilius Hendra Kimawan, OSC, Pastor Kepala Paroki Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan. Ini adalah pertama kali  ulang tahun Pastor Hendra dirayakan di paroki semenjak beliau bertugas di Paroki  Pandu.

Misa selasa pagi itu kebetulan dipimpin oleh Pastor Hendra sendiri, sehingga saat ujud doa dimana biasanya jika ada seorang pastor yang berulang tahun selalu disebutkan namanya, kali ini tidak terjadi. Kejadian yang tidak biasa ini membuat Pastor Rob berinisiatif untuk mengumumkannya pada umat begitu misa selesai. Pengumuman inilah yang  menyebabkan berbondong-bondongnya umat menuju biara setelah misa selesai. Padahal sudah dijadikan kebiasaan baru, biara terbuka bagi umat untuk memberi selamat kepada pastor yang berulang tahun hari itu pada saat siang dan malam hari saja. Kedatangan umat ke biara disambut senyum dan tawa oleh Pastor Hendra yang memperlihatkan pengertiannya sebagai Gembala Paroki.

Pagi itu waktu ditanya kenapa nama Basilius yang dipilih padahal nama ini tidak populer, beliau menyatakan karena  Basilius adalah nama seorang  Uskup, Pujangga Gereja dan Pendiri Hidup Membiara di Gereja Timur tepatnya di Asia Kecil, yang mendukung gigih Ke-Tuhan-an Roh Kudus.

Siang hari mulai berdatangan umat yang ingin mengucapkan selamat pada Pastor Hendra. Selain umat pandu, hadir juga beberapa orang yang tidak terlalu dikenal oleh umat di paroki. Biasanya kehadiran tamu-tamu yang bukan dari paroki pandu memperlihatkan dari mana tugas sebelumnya atau bekerja dimana seorang pastor yang berulang tahun. Yang hadir siang itu banyak dari Pejabat Universitas Katolik Parahyangan dimana Pastor Hendra menjabat sebagai sekretaris disana. Dari sekian banyak yang hadir ada juga sosok seorang ibu yang terlihat begitu dekat dengan Pastor Hendra. Siapa gerangan ibu itu ? Ternyata ibu yang bernama Clara Lanny Anes adalah ibunda Pastor Hendra yang sengaja datang siang hari itu ke Biara Pandu untuk turut  mengucapkan selamat ulang tahun pada putranya.

Dari Ibu Lanny Anes inilah kita dapat mengetahui kehidupan keluarga Pastor Hendra khususnya yang berkaitan dengan Iman Katolik mereka. Mereka bukan berasal dari  keluarga katolik. Yang pertama berminat pada Agama Katolik adalah Pastor Hendra, mungkin karena beliau sekolah di SD dan SMP St Jusuf sebuah sekolah katolik yang dekat dengan rumah mereka. Ibu Lanny mengatakan bahwa Pastor Hendra sudah menyatakan keinginannya menjadi Imam mulai kelas 4 SD, dan ini dibenarkan oleh Pastor Hendra dan langsung disambung bahwa walaupun belum  menjadi katolik, beliau sudah ikut Legio Maria dan menjadi misdinar. Keberadaannya dalam komunitas itu menumbuh kembangkan iman panggilannya. Belajar Agama Katolik selama dua tahunpun tetap dijalani penuh sukacita, mengapa sampai dua tahun?  Ketika akan dibaptis, ibu dan kakak tertua Pastor Hendra mulai belajar Agama Katolik. Maka, Pastor Sahid yang semula akan membaptis Pastor Hendra mengatakan bahwa yang lebih senior (Ibu dan Kakak Pst Hendra) harus dibaptis lebih dahulu. Jadi Pastor Hendra “kecil” mengalah dan dengan sabar menunggu ibu dan kakaknya menyelesaikan katekumen dan dibaptis, baru kemudian tibalah pada gilirannya dibaptis pada saat kelas 6 SD, selanjutnya mereka bisa pergi ke gereja sekeluarga untuk natalan bersama. Natal pertama bersama keluarga  itu selalu menjadi kenangan yang indah bagi Pastor Hendra
Ibu yang melahirkan dua orang pastor ini menyatakan dukungannya dari dahulu sampai sekarang dengan doa yang terus menerus, karena ada kekhawatiran pada pastor dijaman sekarang  yang begitu banyak godaannya. Kehadirannya di Biara Pandu pada saat ulang tahun putranya juga merupakan wujud perhatian yang begitu besar kepada Pastor Hendra yang selalu menyempatkan diri untuk menemani sang ibu disela-sela ucapan-ucapan selamat ulang tahun baik dari para imam, rekan kerja maupun dari umat. Kedekatan ibu dan anak ini menyentuh dan mengingatkan kita akan Keluarga Nazaret, walaupun Maria sudah mengerti dan mengetahui bahwa Putranya hadir di dunia ini untuk seluruh umat manusia, tapi dia tetap mempunyai hari seorang ibu bagi putranya, hati yang selalu mendampingi sampai akhir hidup-Nya.

Malam hari, tamu semakin banyak yang hadir, dan salah seorang yang hadir awal adalah Pastor Agustinus Sudarno, OSC, pastor paroki sebelum Pastor Hendra. Mereka terlihat duduk bersama dan berbincang akrab cukup lama. Terlihat bagaimana Pastor Hendra menghormati seniornya. Sikap yang perlu dicontoh.

Karena “mie” merupakan kegemaran Pastor Hendra, menu pagi, siang maupun malam selalu dihadirkan mie dengan berbagai rupa penyajian, dari lomie, mie goreng sampai spaghetti. Kemeriahan dan kegembiraan malam itu dilengkapi dengan bagi-bagi hadiah pada umat oleh Pastor Yuwono berupa anggur dari Israel, coklat dan salib kecil. Hip Hip Hurraaa!!!

( Triawan)

Umat Pandu ikut bergembira bersama dalam acara Ulang Tahun Pst Hendra

Umat Pandu ikut bergembira bersama dalam acara Ulang Tahun Pst Hendra

Pst Hendra bersama dengan ibunda tercinta

Pst Hendra bersama dengan ibunda tercinta

Dengan Pst Vermeulen, OSC: melayani

Dengan Pst Vermeulen, OSC: melayani