Pastor Agustinus Sudarno,OSC

Selagi kita bisa memberi, … berilah!

Pastor Agustinus Sudarno,OSC

Pastor Agustinus Sudarno,OSC

Siapa yang tak kenal dengan pastor kepala paroki Pandu ini? Sejak Mei 1999 pastor yang murah senyum ini menggembalai umatnya di paroki Santa Perawan Maria Sapta Kedukaan.

Tahun ini selain paroki Pandu dan stasi St.Theodorus yang berulang tahun, masing masing yang ke 75 dan 25, pastor Darno – demikian ia dipanggil akrab- pun merayakan imamat peraknya yang ke 25.Tepatnya pada tanggal 26 Juni 1985 silam ia di tahbiskan bersama sama dengan Pastor Supandoyo, Pastor Marcus Priyo Koesharjono dan Matius Tukimin oleh (alm) Mgr. Alexander Djajasiswaja di paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria-Buah Batu.

Pastor Darno lahir di Klaten(5/7/1957). Ia bersekolah di SD Canisius dan SMP Pangudi Luhur di Klaten. Lulus SMP ia memutuskan untuk masuk Seminari Menengah Mertoyudan. Pada tahun 1978 ia diterima di novisiat Sultan Agung dan Fakultas Filsafat o& Teologi Unpar. Tugas pertamanya sebagai frater setelah lulus(1984)adalah di paroki Buah Batu. Lantas ia menjalankan tahun pastoralnya selama satu tahun di Asmat. Ia mengawali tugas pastoralnya sebagai pastor pembantu di paroki St.Jusuf-Cirebon(1985-1987). Setelahnya dilanjutkan membantu kembali di Asmat(1987-1988). Mulai tahun 1988 ia bertugas di paroki St.Odilia-cicadas selama lima tahun sebagai pastor paroki. Kemudian ia ditugaskan di bidang formasi(1993-1999) sebagai magister Novisiat di biara Pratista-Cisarua dan merangkap pula sebagai ketua yayasan Salib Suci hingga 1999.

Ia tumbuh ditengah keluarga yang membentuk panggilan imam itu sendiri. Dari enam bersaudara, satu kakaknya juga menjad imam SJ dan adik perempuannya adalah biarawati dari Fransiscan. Mereka yang dibaptis pada saat SD, mendapat suasana katolik dari nenek yang rumahnya berdekatan dengan rumah orang tuanya. Orangtuanya yang baru menjadi katolik setelah anak anaknya dibaptis ini tidak menganjurkan mereka menjadi pastor, akan tetapi memberikan kebebasan penuh pada pilihan hidup masing masing anak.

Ketika ditanyakan mengapa ia memilih OSC sebagai tarekatnya, ia menjawab dengan penuh canda: ”Agar saat berkumpul pada acara keluarga, akan memberi warna dan banyak cerita”. Ia menambahkan bahwa kakak dan kerabat yang lain sudah ada yang dari SJ.

Pastor yang punya hobby membaca ini mengatakan bahwa pelayanan di Asmat telah menempa mentalnya untuk menghargai berkat yang ada dan menjadikannya berani hidup dalam kesendirian. Disamping kesibukannya sebagai pengawas di yayasan Mardiwijana Satya Winaya, ia masih menyempatkan diri untuk mengikuti berbagai seminar pendidikan dan pengembangan diri.

Kateristik umat Pandu yang heterogen memberi dampak yang variatif dalam suku,budaya dll. ”Disebabkan tidak ada perumahan baru di wilayah paroki, banyak terdapat umat dari usia lanjut.”, demikian jelasnya tentang keadaan umat di paroki Pandu.” Oleh sebab itu, proses regenerasi pun tidak mudah”, ujarnya kemudian. Ia berharap agar keberadaan koperasi mampu mengangkat ekonomi umat yang sebagian besar masih lemah. ”Itulah sebagian dari tantangan yang dihadapi paroki saat ini, selain sulit mengubah mental umat yang ingin serba instan”, tambahnya. Selanjutnya ia meletakkan dasar, agar keberadaan KEP(Kursus Evangelisasi Pribadi)bisa juga menjadi sarana leadership bagi OMK dalam proses regenerasi gereja.

Motto dalam hidupnya adalah: Selagi kita bisa memberi…..berilah. Sepertinya inilah yang menjadi pedoman mengapa ia senantiasa menyumbangkan pemikiran bagaimana agar umat semakin mau terlibat dan peka terhadap situasi sekitar dan mau melayani dalam kualitas.

Dalam kehidupan imamat selanjutnya, ia berharap agar ia tetap mampu melaksanakan tugas dengan penuh sukacita dimanapun ia ditempatkan. (RTC)