Pastor Laurentius Tarpin, OSC

FLUKTUASI HIDUP PANGGILAN ADALAH HAL BIASA

Pastor Laurentius Tarpin, OSC

Pastor Laurentius Tarpin, OSC

Pastor yang diperbantukan di paroki Pandu ini bernama lengkap Pastor Laurentius Tarpin,OSC. Ia adalah sosok yang selalu ceria dan energik. Ia senantiasa menebarkan suasana riang gembira, cerminan dari jiwanya yang sehat serta langkahnya yang mantap akan pilihan hidupnya. Suara lantang yang menggelegar di dalam misa sudah menjadi ciri khasnya yang bisa membangunkan umat yang nyaris terkantuk. Namun ia bisa sangat khusyuk saat memanjatkan doa bagi umatnya.

Pastor Tarpin lahir tepat tanggal 8 Maret, empat puluh satu tahun yang lalu sebagai anak ke empat dari enam bersaudara. Ia bersekolah di SD Yos Sudarso, Cisantana-Kuningan. Lalu dilanjutkan di SMP yang sama di Cigugur. Kemudian ia diterima di SMA St.Maria I Bandung dan sekaligus berdiam di Seminari Menengah Cadas Hikmat. Disinilah ia mendapat pembinaan spiritual yang pertama kali yang akan menentukan langkahnya di kemudian hari. Ia bercerita bahwa sejak SD ia sudah ingin menjadi seorang imam. Ia terkenang akan pastor(alm)Mari Royakers, OSC yang seringkali berkunjung ke rumahnya, saat pastor tersebut bertugas di Cisantana. Sepertinya peristiwa kunjungan pastor ini sangat membekas dihatinya, sehingga menjadi sebagai pencetus penentuan pilihan hidupnya di kemudian hari.

Pada tahun 1988, ia melamar ke ordo salib suci dan pada tanggal 19 Juli 1988 ia pun diterima di biara OSC sebagai postulan danpada tanggal 27 Agustus menerima jubah kebesaran OSC. Sejak saat itu, ia memasuki masa novisiat hingga 1990. Tahun 1989 ia resmi menjadi mahasiswa Unpar jurusan Filsafat dan Teologi. Kaul sementara diucapkannya pada tanggal 28 Agustus 1990. Dari bulan Juli –Desember 1992, ia menjalankan tahun orientasi pastoral di paroki St. Agustinus-Karawaci. Akhirnya pada tanggal 28 Agustus 1993, ia mengucapkan kaul kekal  di biara Partista, disusul gelar S1 ia raih dua tahun kemudian(1995).

Tugas pertamanya adalah membantu pada setiap akhir pekan di paroki Kristus Sang Penabur-Subang. Ia ditahbiskan sebagai diakon di kapel St.Helena, Pratista pada tanggal 31 Januari 1996 oleh (alm) Mgr. Alexander Djajasiswaja Pr. Tahun diakonat ia jalani di paroki St.Laurentius(Jan-Juni 1996). Tahbisan Imamnya adalah pada tanggal 26 Juni 1996 di gereja St. Laurentius oleh (alm) Mgr. Alexander Djojosiswojo bersama sama dengan tiga imam seangkatan lainnya (Pst. Anton Subianto, OSC, Pst.Hendra Kimawan,OSC Pst.Rosaryanto,OSC) dan bersama tiga diakon teman seangkatan (Diakon Andreas Dedi,OSC, Diakon Setevanus Budi Saptono,OSC dan Diakon Constantinus Eka Wahyu DS,OSC)

Seminggu kemudian ia diutus ke Roma untuk melanjutkan studi ke jenjang S2  bidang studi Teologi Moral di Academia Alfonsiana , Univeristas Laterans-Roma-Italy. Setelah menggondol gelar S2 pada tahun 1998, ia pun dipanggil pulang untuk mengajar di Fak. Filsafat & Teologi Unpar hingga tahun 2001. Oleh karena track record nya yang bagus, ia dikirim kembali ke universitas dan bidang studi yang sama pula, untuk mengambil program S3. Ia merampungkan studi doktoralnya itu pada tahun 2003 dengan predikat ‘maxima cum laude’.

Ia menjelaskan Teologi Moral adalah bentuk refleksi pengalaman iman kita, sejauh mana iman itu dikonkritkan dalam kehidupan manusia.

Awal tahun 2004, ia  mengajar Teologi Moral di Fak.Filsafat dan Magister ilmu Teologi Unpar. Selain itu dari tahun 2004-2006 ia pernah menjabat sebagi kepala pusat Kajian Humaniora Unpar. Bersamaan dengan kurun waktu itu, ia juga adalah magister para frater di Skolastikat OSC Jl. Pandu 4.
Mulai Des 2006 hingga saat ini, ia menjabat posisi wakil Rektor III bidang kemahasiswaan di Universitas Katolik Parahyangan. Ditengah kesibukan akademis nya, ia menjadi anggota Komite Etik di R.S. Borromeus dan sebagai moderator Komisi Keluarga di Keuskupan Bandung.

Dari sejumlah kegiatan diatas, ia masih melayani umat Pandu dengan tebaran senyumnya yang khas. Ketika ditanyakan, apa yang melatarbelakangi semangatnya yang menggebu. Ia mengatakan: ”Prinsip saya adalah tiga C: commitment, consistence dan consequence”.

Pastor yang suka membaca buku sambil mendengarkan musik ini mengatakan bahwa menjalani hidup panggilan, tak lepas dari fluktuasi yang ia anggap sebagai hal yang biasa saja.Yang penting adalah bagaimana agar ia tetap setia pada komitmen itu sendiri. Untuk itu, ia berpegang pada motto hidupnya: ”Tuhan yang telah memulai karya baik dalam hidup saya, maka Tuhan sendiri yang akan membantu menyelesaikannya”.

Harapannya dalam menyambut ulang tahun paroki, sederhana saja,yakni; “sejalan dengan dasar dan pedoman keuskupan Bandung, agar umat semakin berakar, mekar dan berbuah di dalam kehidupan menggereja”ujarnya sambil menebar  senyuman  dari bibirnya yang berhias kumis yang khas. (RTC)

 

FLUKTUASI HIDUP PANGGILAN ADALAH HAL BIASA