Pastor Matheus Antoro Juwono, OSC

Pastor Matheus Antoro Juwono, OSC

Pastor Matheus Antoro Juwono, OSC

Pastor Juwono bertugas di Pandu sejak akhir Januari yang lalu. Banyak dari umat yang belum mengenal Pastor yang murah senyum ini. Mari kita mengenalnya..

Pastor Juwono lahir di Yogyakarta, pada tanggal 25 September 1952. Ia mengenyam masa SD dan SMP di kota kelahirannya. Jenjang pendidikan selanjutnya ia teruskan ke SPG di kota Cimahi pada tahun 1967 dan lulus tiga tahun kemudian pada tahun 1970. Namun selanjutnya ia tak berkarir sebagai guru, tapi memutuskan untuk masuk Seminari Tinggi  OSC di Pandu. Pada tahun 1978, ia lulus dari Sekolah Tinggi Filsafat & Teologi.

Masa pastoral, ia jalani di gereja Kristus Raja – Cigugur selama dua tahun, hingga 1979. Pada tahun yang sama, pada tanggal 19 September ia ditahbiskan menjadi imam di gereja St. Petrus-Katedral oleh Uskup Mgr Artnz bersama-sama dengan Pastor Widyo dan Pastor G. Lala.

Usai tahbisan, ia masih berkarya di Cigugur hingga akhir 1981. Kemudian ia ditugaskan beberapa bulan ke St. Mikael, Indramayu dan dilanjutkan kemudian ke gereja Hati Kudus Yesus, Tasikmalaya sebagai pastor paroki hingga 1986.

Pada tahun 1986, untuk beberapa bulan, ia kembali ke kota Bandung dan bertugas di paroki St. Paulus, Moh. Toha. Lantas pada tahun yang sama, ia berangkat dalam On Going Formation, ke Roma dan London selama sembilan bulan.

Sekembalinya, ia bertugas kembali di Cigugur, Subang, Pratista dan di biara Sang Kristus, Jl. Nias.

Pada tahun 1992 hingga 1993, ia berkarya di biara Sultan Agung, membina para frater disana. Pada tahun 1993-1996, ia bertugas di Seminari Menengah Cadas Hikmat.

Selanjutnya pada tahun 1996 hingga akhir 1998, ia menjadi sekretaris Provinsialat OSC di Jl. Nias. Selesai bertugas dibidang administratif, ia kembali melayani umat di paroki St. Jusuf – Cirebon hingga Januari 2011.

Kini pastor yang hobby beli buku Teologi & Filsafat ini, menjadi pastor rekan di gereja Pandu. Dalam suasana bincang- bincang, Pastor yang terkesan pendiam ini mengaku kalau ia tak suka menyanyi. Dari pengalamannya yang pernah bertugas di berbagai kota, ia melihat kenyataan bahwa umat di kota besar cenderung lebih mandiri dari yang di kota kecil. Sebagai imam, ia senantiasa ingin menanamkan iman katolik yang murni bagi setiap umatnya.

Untuk itu, secara sederhana ia ungkapkan pula bahwa Motto hidupnya adalah keinginan untuk menjadi imam yang baik saja.

Ketika ditanyakan, apa pengalaman hidup yang mengesankannya, ia mengatakan bahwa ia menanggapi hidup  ini dengan mengalir begitu saja.

Selamat berkarya Romo …( Rosiany T Chandra)