Pastor Rob Stigter,OSC

Dalam Keakraban,Bersama sama Menuju Kepada Tuhan

Pastor Rob Stigter, OSC dan Bruce

Pastor Rob Stigter, OSC dan Bruce

Motto diatas telah menjadi pegangan Pastor Rob dalam mengimani hidup pelayanannya yang telah berlangsung selama 43 tahun. Berbekal inspirasi ini pula ia menjalani tugasnya sehari hari di Pandu sejak 30 Agustus 2009.

Pastor Rob lahir di Den Haag negeri Belanda 70 tahun yang lalu. Ia memasuki Seminari Menengah OSC di Ueden(1954-1959)dan Novisiat di Limberg(1959-1960). Lalu dilanjutkan dengan Sekolah Tinggi Filsafat di Zoeterwoude(1960-1962). Pada tahun berikutnya ia mendapatkan kesempatan untuk studi Teologi di Indiana, USA hingga tahun 1965. Kemudian untuk pertama kalinya ia menjajaki kakinya di Pandu sebagai Frater selama 1 tahun hingga Februari 1966.

Pada tahun 1966 Pastor Rob ditahbiskan sebagai Imam di negeri Belanda. Tak lama kemudian ia ditugaskan di paroki Kemuning hingga 1968. Lantas selama 14 tahun ia melayani di paroki St.Jusuf -Cirebon sebagai pastor pembantu. Dari Cirebon ia bertugas di paroki St.Michael-Indramayu hingga 1985.

Setelah 19 tahun berkarya di Indonesia,pastor yang punya hobby naik gunung ini ditugaskan di “Markas Besar” OSC di Roma hingga 1991 sebagai rektor rumah dan rektor gereja St.Giorgio yang terletak disamping biara.

Tugas selanjutnya  adalah ke seberang benua, yakni Congo-Afrika. Ia bertugas  disana selama 17 tahun hingga 2009.

Agaknya ia bergembira ditempatkan kembali di Indonesia, karena hobby naik gunung kembali bisa ia tekuni. Hobby yang dimulai sejak ia bertugas di paroki Kemuning ini banyak memberikan tantangan pengalaman dan kepuasan batin dalam mengisi hari hari luangnya. Adapun gunung-gunung yang ia sudah daki antara lain adalah :G.Ciremay, G.Tampomas, G.Merbabu ,G.Sumbing, Sindoro dll

“Seringkali dalam pencapaian ke puncak, tantangan medan itu begitu besarnya, sehingga kenikmatan mencapai puncak itu tiada tara pula rasanya” tutur beliau ketika ditanyakan tentang passion mendaki gunung.””Akan tetapi tak urung juga, dalam pendakian pernah saya dua kali kembali ke bawah, karena kehilangan arah. Kami mengambil keputusan kembali karena tak mau mengambil risiko” sambung pastor yang fisiknya masih fit dan gagah diatas rata rata pria seusianya.

Selain senang dengan alam, pastor Rob juga sangat mencintai anjingnya, Bruce, penghuni Pandu yang dengan sepenuh hati dirawatnya. Sehari tiga kali ia mengajak Bruce jalan jalan sekitar Pandu, hal yang membuat ia juga ikut berolahraga. Ketika ditanyakan kapan naik gunung lagi, ia berkata: :”Yah…sekarang mendaki yang bukit bukit sajalah sesuai usia”, ujarnya yang kemana mana setia bersepeda dalam tugas pelayanan.(RTC)