Pastor S. Budi Saptono, OSC

Pastor Budi Saptono berasal dari stasi St.Theodorus-Sukawarna, paroki Pandu. Berikut adalah tulisan Pastor Tonno tentang  perjalanan imamatnya.

Pastor  S. Budi Saptono, OSC

Pastor S. Budi Saptono, OSC

Pertama-tama saya ucapkan selamat buat Paroki Pandu yang telah memasuki usia 75 tahun. Demikianlah sebagai sebuah persekutuan Umat Allah, 75 tahun adalah saat untuk bisa berkumpul bersama, mengenang kisah manis dan pahit dalam sebuah refleksi dan berbagi cerita.

Mengenang kilas balik saya sebagai sebagai anak kecil yang dilahirkan dan dibesarkan di perumahan kompleks Angkatan Udara Lanud Husein Sastranegara, terletak tak jauh dari rumah saya, kira-kira sekitar setengah jam saja gereja Pandu dan sebuah biara yang berdampingan dengan gereja tersebut.

Orang tua saya terbilang aktif sebagai pengurus lingkungan dan bertugas dalam kepengurusan wilayah serta tenaga pengamanan dari kesatuan AURI. Dalam pembangunan stasi Sukawarna, ayah lebih banyak meluangkan pikirannya kesana. Konon, ayah saya termasuk yang terlibat dalam penggalangan pencarian dukungan ke masyarakat sekitar.

Saat kecil, saya teringat ketika dalam doa lingkungan, ada pastor bule yang datang. Beliau merupakan sosok yang dinantikan oleh banyak orang. Saya bangga kalau seorang pastor bule bisa mengunjungi dan hadir di antara keluarga saya dari lingkungan Sukaraja.  Masa kanak-kanak, setelah komuni pertama saya ikut kegiatan putra altar karena merasa senang jika bisa menggunakan jubah. Kemudian selain banyak teman, agar kalau ke gereja tetap mendapat tempat sehingga tidak perlu repot-repot mencari tempat duduk kala misa. Hiburan lain adalah bisa menikmati sisa minuman anggur dari pastor yang tidak menghabiskan anggurnya usai misa. Sekolah saya tidak jauh dari gereja, saya lebih sering berada di sekitar pastoran dimana ada perpustakaan paroki yang boleh dipinjam buku-bukunya. Mungkin dari situlah saya mengenal pastoran.

Tentang paroki Pandu, saya hanya tahu bahwa ada beberapa frater tinggal di dalam biara itu. Mereka tampak kelihatan kalau hanya ada perayaan ekaristi harian dan juga mingguan. Setiap pagi kalau saya tugas misa harian pagi sebagai putra altar saya melihat frater-frater berdoa sebelum misa dimulai. Frater-frater menggunakan jubah yang enak dilihat dan terkesan bagus yang membuat kekaguman di dalam hati saya. Mungkin saya ingin seperti mereka. Waktu itu semua pastornya orang Belanda dan dari OSC.

Ketika saya menginjak akhir kelas 3 SMP sebenarnya keinginan masuk seminari itu hanya terdorong oleh kakak kelas yang waktu itu sudah masuk seminari di Magelang. Oleh sebab itu saya ingin mendaftar kesana,akan tetapi saya tidak diberi rekomendasi oleh pastor paroki. Sebagai gantinya saya dianjurkan masuk seminari milik keuskupan saja di jalan Pasirkaliki.

Lulus SMP saya melanjutkan ke SMA Santa Maria I dan juga masuk seminari Menengah Cadas Hikmat.  Saya merasa pada waktu itu perhatian dari paroki hanyalah dalam bentuk pemberian surat rekomendasi saja dan selanjutnya setelah masuk seminari segala urusan keuangan semua ditanggung keluarga.

Dalam tahun tahun selanjutnya saat kelulusan SMA saya hanya  ingin melanjutkan saja karena ingin jadi pastor, namun tidak pernah terpikirkan sama sekali apa resiko dan konsekuensinya. Kejujuran pada waktu itu hanyalah ikut mendaftarkan ke jalan Sultan Agung bersama dengan teman-teman  lain tanpa memikirkan bagaimana nantinya hidup membiara.

Sejak masuk biara itulah jubah yang pernah saya lihat di paroki pandu kini telah menjadi milik saya. Ada kekaguman sekaligus ketakutan. Ternyata di biara semuanya serba dibatasi. Sambil menjalani hidup terpisah dari keluarga saya  merenungkan bagaimana sebuah ketidaktahuan akan kehidupan yang selanjutnya itu akan saya terima dan hadapi. Awalnya kesan saya bahwa kehidupan dibiara itu enak, nyaman dan tertib. Hingga suatu saat mulai terasa ketika kebebasan mulai agak dikurangi kala surat-surat diseleksi, telpon dibatasi, jadwal sudah ditentukan sedemikian rupa sehingga tugas saya hanya belajar, berdoa, bekerja. Pergi-pergi pun tak sembarangan.

Enam tahun kemudian sekitar tahun 1993 saya kembali ke paroki pandu namun sebagai seorang frater senior. Kadang saya malah malu lho bertemu dengan teman-teman lama yang kini menyapa dengan sebutan frater. Hanya kepolosan menjalani hidup saja yang menghantarkan saya menjadi calon imam. Tiada kehebatan dan beban kecuali saat saya agak “terganggu” dengan perjumpamaan teman-teman semasa kecil di gereja dengan kenangan dulu sebagai umat dan putra altar dimana saat itu saya berjubah OSC dan tinggal di dalam biara sebagai frater.

Pandu menjadi ramai namun saya melihat orang-orangnya sama saja hanya sudah menjadi tua dan teman-teman saya menjadi keluarga-keluarga muda. Sebuah perjumpaan yang memberi  kenangan tersendiri.

Pada tahun 2003 setelah saya bertugas dari Papua, saya mendapatkan tugas di paroki Pandu. Saya tidak mengetahui mengapa pimpinan menempatkan saya di paroki tempat saya kecil, besar dan kembali dengan status yang berbeda yaitu sebagai Pastor di paroki ku.
Perasaan saya ketika ditempatkan disini, terus terang adalah malu. Malu bahwa apakah saya bisa memberikan pelayanan ke tempat saya, bertemu dengan teman-teman dan juga keluarga-keluarga yang pernah saya kenal sejak kecil. Pengalaman injil yang mengatakan bahwa seorang nabi tidak pernah diterima ditempat asalnya menghantui saya.

Kebetulan lagi koq saya diminta untuk memberi perhatian di stasi Sukawarna. Saya  percaya diri karena untunglah nama ayah saya sebagai seorang aktivis mendukung kehadiran saya.

Hal yang positif, Pandu tetap menjadi tempat sejarah yang menarik karena Pandu dikenal dekat dengan sekolah, berdekatan dengan kuburan dan berkesan dalam dari label OSC nya. Banyak umat potensial dari berbagai kalangan bisa menjadi satu. Letaknya  yang strategis bisa dijangkau umat dari mana-mana, termasuk dari luar kota. Selamat merayakan pesta 75 tahun. Semoga Paroki Pandu tetap berjaya.

Salam dan doaku Pst. Tonno,OSC