Pastor Tarcisius Warhadi Harjasemeru,OSC

BUKAN SATU KALI PROSES…..!

Pastor Tarcisius Warhadi Harjasemeru,OSC

Pastor Tarcisius Warhadi Harjasemeru,OSC

Pastor Warhadi mulai bertugas di paroki Pandu sejak 1 November 2008. Selain bertugas di Pandu, ia adalah pastor koordinator untuk wilayah stasi St. Theodorus-Sukawarna. Hampir tiap selasa dan kamis pagi ia membawakan misa pagi di Stasi ini.

Pastor yang lahir 54 tahun silam di Kuningan ini mengawali tugas nya yang pertama sebagai pastor pembantu di Tasikmalaya(1982-1983). Lalu dilanjutkan kemudian selama tiga tahun di Paroki Hati Tak bernoda (Buahbatu). Pada tahun 1986-1987 ia menjalani on going formation di Roma. Sepulang dari Roma selama lima tahun ia menjadi pastor paroki di St. Melania dan pastor pembantu di katedral.

Pada tahun 1992 ia melayani umat paroki St.Ignatius-Cimahi sampai pada tahun 1997. Dari Cimahi selanjutnya ia ditugaskan ke Karawang sebagai pastor paroki disana hingga tahun 2000. ”Lalu selama satu tahun (2000-2001) saya kembali ke kampung halaman sebagai pastor pembantu di Cigugur.” ujar Pastor Warhadi yang tumbuh dalam keluarga yang kehidupan beragamanya terpelihara dengan baik ini.

Kemudian di tahun 2001 untuk pertama kalinya ia ditugaskan keluar Jawa, yakni ke Tebingtinggi (Sumatera Utara) sebagai pastor paroki hingga 2005. Banyak hal dan pengalaman yang ia dapatkan selama bertugas disini dengan latar belakang sosial budaya yang berbeda dengan di Jawa. ”Ikatan marga yang kuat berpengaruh dalam karya gereja”, demikian ungkap Pastor Warhadi yang fasih berbahasa batak ini. Pada saat akhir masa tugasnya disana, ia mendapat tugas dari propinsial untuk menempati pos di paroki St. Jusuf-Cirebon hingga akhir 2008.

Pastor yang amat menghayati panggilannya ini mengatakan bahwa proses panggilan itu bukanlah satu kali proses saja yang sudah pasti, melainkan selalu berproses untuk menjadi. ”Tatkala ada keraguan, pada saat itulah kita wajib menyikapinya sebagai tantangan, dalam pengertian tantangan itu adalah satu proses juga dalam pemurnian panggilan itu sendiri”, demikian tuturnya dengan mimik serius. ”Tantangan itu bisa internal seperti kekeringan dan tantangan life style berupa fasilitas pengadaan dll.”, tambah pastor yang punya hobby driving dan travelling ini.

Dalam menyambut ulang tahun paroki, ia berharap agar ciri khas umat Pandu yang memiliki kehidupan devosional yang kuat, bisa terpelihara dengan baik. Secara organisasi ia mengharapkan semoga paroki semakin rapih dan professional dalam pelayanan. ”Semoga umat Pandu semakin tumbuh dalam semangat persaudaraan dan tanggung jawab untuk terlibat dalam kehidupan menggereja” ujar pastor yang terkesan pendiam ini.

Agaknya motto hidupnya yang mengatakan: ”Enjoy saja dan easy going…semua akan selesai pada waktunya” telah menjadi pedomannya menjalani hari hari dengan ringan serta penuh optimisme. (RTC)