Pastor Faustinus Sirken, OSC.

(dikutip dari artikel Berita Kita Edisi Januari 2012)

Pastor Faustinus Sirken, OSC

Pastor Faustinus Sirken, OSC

Pastor Faustinus Sirken, OSC ini berasal dari Ambon, Maluku. Ia adalah putera ke dua ( tujuh orang bersaudara), dari Bapak Yakobus Sirken dan Ibu Ancelma Ngamel. Pastor Tinus, demikian ia akrab disapa, lahir di Langgur, Ambon pada tanggal 2 Februari 1974. SD dan SMP ia lewati di kota kelahirannya. Pada masa itu ia tidak bersekolah di sebuah seminari, karena belum ada terbersit keinginannya untuk menjadi seorang imam. Oleh sebab itu, ia pun bersekolah di SMA negeri II Tual, hingga lulus pada tahun 1993.

Seiring dengan kelulusannya itu, timbul keinginannya untuk menjadi seorang pastor. Lantas ia memutuskan untuk masuk ke Seminari Tinggi STFT – Fajar Timor di Jayapura, Papua. Disana ia menempuh studi S1 Teologi & Fisafat hingga lulus pada tahun 1998. Tahun Orientasi Pastoral ( 1998- 1999) ia jalani di Paroki Ayam- Keuskupan Agats.

Usai TOP, Pastor Tinus baru memutuskan untuk menjadi Novisiat di biara OSC (1999-2000). Sedikit berbeda dengan aturan formasi yang ada di keuskupan Bandung, dimana pada saat seseorang memasuki sebuah Seminari, terlebih dahulu ia sudah harus memutuskan apakah akan menjadi seorang imam diosesan atau biarawan.

Selanjutnya ia kembali meneruskan studi S2 di STFT- Fajar Timor, hingga lulus pada tahun 2002. Pada tahun yang sama pula, ia mengucapkan kaul kekal serta tahbisan Diakon. “Setahun kemudian, pada tanggal 3 Juni 2003, saya menerima Tahbisan Imam di Keuskupan Agats oleh Mgr. Aloysius Murwito, OFM”, kata Pastor Tinus dengan suara yang amat bersahabat. Sebagai pastor, tugas pertamanya adalah di Paroki Ayam yang ia laksanakan selama satu setengah tahun hingga tahun 2005. Selanjutnya hingga 2006, ia bertugas di Formasi sebagai Magister Postulan biara OSC- Agats.

Pada tahun 2007, ia dikirim oleh ordo untuk studi S2 Liturgi di Manila, Philipina. Bulan Juli 2010, sejurus dengan kelulusannya, ia ditempatkan sebagai anggota dewan priorat Agats.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, pada saat berlibur ke rumah orang tuanya di Ambon, Desember 2010, ia mengalami kecelakaan motor yang sangat parah. Masa pengobatan dan pemulihan harus ia jalani di Jakarta hingga Juni 2011. Setelah sembuh, ia pun kembali ke Agats. Sejak 11 Sepetember 2011, ia mendapat tugas di paroki kita. Disamping itu, rencananya ia juga diminta untuk mengajar di ILSKI.

“Saya melihat, semangat umat Pandu untuk terlibat dalam menggereja sudah bagus, melalui kelompok-kelompok kategorial yang ada”, ujar pastor yang gemar berolahraga badminton ini. “Harapan saya, agar semangat idealisme Pandu bisa diarahkan ke sasaran yang tepat, agar Tahun Ekaristi menjadi sebuah panduan untuk mengarahkan umat demi terwujudnya visi dan misi paroki”, pesan Pastor Tinus dengan ramah.

“Saya senang tinggal dan mengenal umat di Pandu, sekaligus mempunyai kesempatan untuk berkenalan dengan teman –teman se ordo di provinsi Sang Kristus”, ujarnya sambil tersenyum menampilkan baris giginya yang putih bersih.
(Rosiany T Chandra)