Pst. Hendra Kimawan, OSC

Pesan “Manual”

(Profile: Pastor Hadrianus Tedjoworo, OSC)

Sejak terbentuknya Priorat Pandu, sepuluh orang biarawan telah bermukim di sini. Dan tentu jumlah ini akan bertambah lagi, yakni Prior Pst. Y. Abukasman, OSC yang dalam waktu dekat akan meninggalkan parokinya di Cigugur.

Namun profil sosok yang akan kami perkenalkan kali ini adalah seorang imam lain yang mungkin sudah Anda kenal sewaktu ia masih frater di Pandu. Kini ia kembali ke Pandu sebagai seorang Doktor Teologi Gereja lulusan Radboud Universiteit Nijmegen, Belanda. Ia adalah pastor Hadrianus Tedjoworo, OSC. Ia adalah putra kelahiran Yogyakarta, 16 September 1971, putra ketujuh dari delapan bersaudara, pasangan Bapak Andreas Maria Djajus dan Ibu Yustina Maria Suwarni.

Pastor yang berkulit putih bersih ini menempuh masa SD hingga SMA di Kota Gudeg, tempat kelahirannya. Ia lulus dari SMA Kolese De Britto pada 1989. “Sebelum saya masuk ke De Britto, saya termasuk anak yang minder, karena melihat kakak-kakak perempuan saya yang hebat prestasinya”, ujarnya dengan jujur. Setelah kelulusannya, ternyata panggilan jiwa imam mengantarkannya ke Seminari Menengah Mertoyudan. Karena sudah menamatkan jenjang pendidikan SMA, ia hanya perlu menempuh setahun terakhir di seminari ini saja (1989-1990). Dalam keragu-raguannya memilih biara yang ingin dimasukinya, ia mengisi waktunya di English Extension Course, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Pada 1991, ia diterima di Novisiat Ordo Salib Suci. Di tahun berikutnya ia  sudah terdaftar sebagai mahasiswa  Fakultas Filsafat, Unpar. Kaul pertamanya adalah pada 1993. Beberapa tahun kemudian ia berkaul kekal (1996). Lantas, di Universitas kota Priangan ini, ia menyelesaikan jenjang studi S1-nya pada 1997. Tahun Orientasi Pastoral ia tempuh di Paroki St. Yusuf, Cirebon, pada 1998. Tak lama kemudian, pada 16 Juni 1999, ia ditahbiskan menjadi imam oleh alm Mgr. Alexander Djajasiswaja, Pr. di Pratista.

Doktor Teologi Gereja

Usai tahbisan, ia ditugaskan kembali di Cirebon hingga tahun 2000, menjelang keberangkatannya ke kota Leuven, Belgia. Di Katholieke Universiteit Leuven ini ia meneruskan jenjang akademik S2, dengan bidang studi Teologi Dogmatik. Setelah kelulusannya pada 2002, ia kembali ke tanah air. Tugas menantinya di paroki St. Laurentius, Sukajadi. Di sana ia melayani hingga 2004. Selanjutnya, dari 2004 – 2011, pastor yang lembut tutur katanya ini ditugaskan di biara Sultan Agung sebagai formator dan socius bagi para frater OSC sambil mengajar di Fakultas Filsafat, Unpar. Selama bertugas di sana, sejak 2005 ia mengambil program studi S3 di Radboud Universiteit Nijmegen, Belanda, dengan pilihan subjek Teologi Gereja. Sejurus berselang, pada 2010 pastor yang gemar dengan hobby fotografi ini (http://picasaweb.google.com/bledjot) menderita sakit yang cukup parah, sehingga studinya terhenti sementara.

Setelah ia sembuh, pada 2011 ia kembali bertugas di paroki St Laurentius sembari melanjutkan studi doktoralnya. Akhirnya pada awal 2013, ia berhasil mempertahankan disertasinya “Keluarga Gerejani: A Catechetical  Exploration Of Church-Images among Catholics in Java” dengan gemilang. Sepulang menggondol gelar doktor, ia resmi menjadi warga Pandu sejak 17 April 2013.

Sehari hari, ia menjadi Ketua Program Studi Filsafat, Fakultas Filsafat, Unpar, dan menjadi editor utama Jurnal Internasional ‘MELINTAS’, sebuah jurnal filsafat dan teologi. Di waktu senggangnya, pastor yang gemar menulis puisi ini senang pula mendengarkan musik dan menonton film ‘action’.

Sebelum menyampaikan berkat di penghujung misa, Pastor Tedjo biasa memberi bonus ‘homili kecil’ yang merangkaikan kembali homili sebelumnya, agar menjadi semacam ”manual” bagi umat untuk mewujudkan kalimat: “Mari, kita diutus!”. “Semoga ‘trade mark’ ini bisa tetap menjadi pemanis dan karakteristik dari Pst. Tedjo”, pesan Bernadette, salah satu umat Pandu.

Secara khusus Pastor Tedjo menanggapi positif karakter umat Pandu yang rajin berdevosi. Meski demikian, salah satu sikap doa meditatif ini diharapkan tidak menyurutkan sifat responsif serta partisipatif umat dalam peran serta kehidupan menggereja secara umum. ( Rosiany T Chandra)