top of page

Saudara-Saudari yang terkasih,Tahun Yubileum 2025 yang bertema Peziarah Pengharapan dengan maskot bernama Luce (Terang) sudah selesai, tetapi aksi dan misi Luce sebagai peziarah pengharapan tetap dilanjutkan. Kita dipanggil menjadi Luce-Luce lain, yaitu agen pengharapan terutama kepada sesama yang mengalami kesusahan dan bumi yang menderita kerusakan. Dalam keranka misioner tersebut, kita memasuki masa Prapaskah pada Rabu Abu, 18 Februari 2026. Pada saat itu, dahi kita akan diberi tanda salib abu sebagai ungkapan pertobatan agar hidup kita memberi pengharapan saat ada jeritan orang miskin yang sengsara dan jeritan bumi yang menderita. Dengan tema Aksi Puasa Pembangunan 2026 “Gerakan Misioner Gereja dalam Menghadirkan Pengharapan”, kita bertekad untuk berkata dan berbuat serta menulis dan merilis segala sesuatu yang memberi dan menambah pengharapan.

Dalam Injil hari ini (Mat 5:17-37), bagi Yesus, kesucian tidak ditentukan oleh apa yang kelihatan, tetapi ditentukan oleh apa yang ada di dalam hati. Yesus mengajak kita untuk menyadari kehidupan yang lebih dalam, yaitu hati yang tak terlihat, tetapi menentukan perbuatan yang kelihatan. Hati yang penuh kasih pada Allah dan belarasa pada sesama seharusnya menjadi landasan perbuatan keagamaan kita.

Pertama, Yesus mengajak kita untuk hidup bukan hanya sekedar melaksanakan aturan keagamaan, tetapi lebih-lebih melakukan kegiatan keagamaan dengan segenap hati karena kasih kepada Allah dan sesama yang cenderung diabaikan oleh ahli Taurat dan orang Farisi. Maka, Yesus meminta para murid-Nya untuk menjalankan kehidupan agama yang melampaui praktek-praktek keagamaan yang sudah dijalankan sesuai peraturan. “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang- orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Mat 5:20) Praktek hidup religius harus bergema nyata dalam kehidupan yang memberi pengharapan kepada keselamatan sesama dan kelestarian lingkungan dengan menjalankan praktek hidup humanis dan ekologis.

Kedua, Yesus mengajak kita untuk meningkatkan kualitas relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Relasi dengan sesama adalah hubungan sosial yang menjadi indikasi hubungan spiritual dengan Tuhan. Relasi kasih dengan sesama adalah persembahan yang mulia yang jauh lebih luhur dari persembahan korban. Relasi yang baik dengan sesama adalah persembahan yang menjadi prasyarat sahnya persembahan korban yang benar di rumah ibadat. Perdamaian dengan sesama dan kebaikan hati pada sesama mengawali prosesi persembahan suci bagi Allah. “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” (Mat 5: 23-24) Persembahan yang layak pada Allah mendorong kita berbelas-kasih, bermurah-hati, dan berdamai dengan sesama.

Ketiga, Yesus mengajak kita untuk memurnikan hati. Dosa mulai dari hati. Segala kejahatan diawali dari hati. Tindakan jahat mulai dari hati yang licik dan diperkuat oleh budi yang picik. Dosa adalah hasil dari hati yang kotor dan budi yang keruh. Maka, Yesus mengajak kita untuk memurnikan hati dan mengasah budi. Di sini Yesus memperlihatkan kaitan antara kesucian hati dan kejernihan mata yang dikendalikan budi. Kita harus memandang sesama dengan mata yang jernih dan budi yang bersih sebagai subjek yang dikasihi Allah bukan sebagai objek nafsu untuk dikuasai dan dinikmati secara tak pantas. “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Mat 5: 28). Cara melihat dan bersikap kita pada sesama seharusnya keluar dari hati suci dan budi bersih hingga setiap orang mengalami dikasihi sebagai ciptaan Allah.

Ajakan-ajakan Yesus tersebut di atas harus dikembangkan melalui perbaikan relasi dengan Allah hingga orang memiliki iman yang dalam kepada Tuhan yang mahakuasa dan maharahim serta memiliki komitmen yang teguh untuk mengasihi sesama serta berbelarasa dan membela kaum miskin dan bumi yang menjerit. Orang yang suci hatinya dan tulus budinya tidak perlu bersumpah. Iman dan kasihnya memberi pengharapan kepada sesama dan kesaksian hidup nyatanya lebih bergaung daripada untaian janji dan kata-kata sumpah. Kita dipanggil untuk berkata apa adanya secara baik, benar, santun, dan kudus seperti yang dikatakan Yesus. “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Mat 5: 37)

Saudara-Saudari yang terkasih,Pada masa Prapaskah ini, kita diajak kembali untuk membersihkan hati yang mungkin tertutup debu dosa agar kita layak merayakan kebangkitan Kristus pada hari Paskah. Praktek hidup mana yang menjadi ungkapan tobat kita saat ini? Iman yang dalam dan komitmen yang teguh karena kehidupan yang baik, benar, santun, dan kudus akan memberi pengharapan kepada semua orang terutama yang sedang ragu, kecewa, sengsara, dan putus asa. Dengan matiraga dan puasa, kita makin membersihkan hati agar dapat lebih hidup murni. Dengan doa dan tapa, kita makin peka akan kehendak ilahi untuk melawan godaan duniawi yang membuat sesama sengsara dan bumi menderita. Dengan amal dan kasih, kita makin berbelarasa dengan sesama yang kecewa, menderita, dan putus-asa serta makin berpihak pada bumi yang terganggu, tercermar, dan tersakiti. Dengan puasa, doa, dan amal, kita kian menjadi Luce yang berjalan bersama memberi pengharapan terutama di zaman yang sulit dan sarat dengan berbagai tantangan dan godaan serta di saat teriakan orang miskin dan jeritan bumi makin bergema. Jadilah Luce yang memberi pengharapan pada sesama dan dunia lewat doa, puasa, dan amal karya yang berorientasi humanis dan ekologis. Bunda Maria, Bunda Pengharapan, doakanlah kami!


Bandung, 11 Februari 2026 Peringatan Santa Perawan Maria dari Lourdes Ut diligatis invicem +Antonius Subianto Bunjamin OSC Uskup Bandung

 
 
 

Gereja Pandu
Paroki Bunda Tujuh Kedukaan
Jl. Pandu No.4 Bandung 40173
Tel: 022-6011138 / 0822-9523-2054
Email: parokipandu@gmail.com


Sekretariat:
Buka setiap hari termasuk hari Minggu  Pk 07:00-21:00
Tutup setiap hari Rabu dan Libur Nasional

Google Maps:

Kolekte dan tanda kasih untuk mendukung pelayanan Gereja dapat disampaikan melalui rekening berikut ini:

OCBC NISP No. Rek: 060.8000.11375 
(Atas nama: PGAK Bunda Tujuh Kedukaan)

BCA No. Rek: 848.084.8048 
(Atas nama: PGAK Bunda Tudjuh Kedukaan)

bottom of page